Langsung ke konten utama

Postingan

Puisi untuk diri pada tanggal ini

Hari ketiga di bulan pemula membelai manja ujung mata yang masih terjaga Pekik riang sirene patroli polisi lewati ruang ini seperti memotong beberapa mimpi dalam ukuran yang membuat iri Tak perlu hembusan pada lilin untuk membuat semua mimpi itu terjalin cukup kata di relung puisi di untaian tuts keyboard pagi ini Hari ketiga di bulan pemula kumulai kembali segalanya letakkan beban di ruang belakang lalu, terbang! (3 Januari 2011)

Air (mata)

Airmata ini seakan tak mau berhenti sementara air wudhu mulai mengering di rambutku yang keriting Tiap kali ku menghadap-Nya doa-doa tanpa rima kupersembahkan kepada ia "tentang kebahagiaannya, mimpi-mimpinya, keluarganya, juga semangatnya," Karena semakin jauh untuk melepas sauh cukup kujaga ia melalui Dia Karena hanya itu yang bisa kulakukan sebelum kenangan tentangku di dirinya terhapus pelan-pelan (14 Desember 2010)

Sendiri

by: Sang Alang Di pantai ini ku nikmati nyanyian dedaunan mengalun manis dimainkan angin Mengajakku 'tuk kembali mengenang setahun yang lalu kala itu mimpiku dan mimpimu masih menyatu Kala hari mulai senja kau bersandar di bahuku kita nikmati surya tengelam Dan kau tulis nama kita di atas pasir putih sambil kau berucap semoga cinta kita 'kan abadi Andai saat ini kau ada di sisiku aku takkan sendiri dan tak sekedar mengenang cinta kita yang pernah ada Sendiri ku kembali mencari cintaku yang hilang hamparan pasir putih dan ombak yang bergulung Jingga mentari senja adakah kau simpan kisahku yang tenggelam bersamamu, yang terbenam bersamamu

Rumah (1)

Desah angin malam ini dendangkan suara nyanyian hati pagar-pagar yang mulai berkarat memberi salam pada langkahku yang berat Kenangan menyusuri jejak kaki jerat serta jerit saling memaki limbung di tengah lumbung tiada lagi tali itu tersambung Hujan, pelangi, dan melati ingatannya memenuhi rumah itu terasa panas oala, hati ini teremas Pertengahan bulan setelah Lebaran pondok bambu dan nyamuk hutan airmata dan kekecewaan dia terlihat dewasa seperti malam Lama, kusadari realita ternyata telah terusir aku dari sana rumah yang pernah ku pastikan selamanya pekarangan, ruang tamu, kamar tidurnya asri... saujana Syahdan, di kala senja memerah ku selalu pulang ke sana membawa segenap penat yang segera lenyap saat jemari itu tergenggam erat Tak terbuka kini pintu rumah itu lagi seperti sales asuransi perlahan aku terusir pergi Sekian jauh perjalanan aku selalu kembali ke sana di saat mesti bertahan tubuhku lelah lalu kalah Wahai, masih terlintas sketsa raut rumah itu pinus di tepiannya berdesir...

Asri

"Ushollii fardhol ashri arba'a roka'atin," Sajadah cokelat alas sholat sekejab tercekat Tatap diriku yang menuju ruku airmata meluruh padahal baru rakaat ke satu Tak kuusap biarkan hangatnya tersesap dan aku tahu, pada saat itu segala harap kugantungkan pada Yang Satu "Ushollii fardhol 'ashri arba'a roka'atin," (7 Desember 2010)

Kisah Hingga Pukul Dua

Ruang tamu rumah bercat biru tiga hari sebelum hari Kartini kami mendekatkan hati setelah beberapa hari hanya saling menggenggam jemari Teh hangat tak terlalu manis terhidang berikut panganan pasar koran hari minggu alasnya rokokku tersembunyi di saku celana Ibunya baru saja pergi mengawasi ujian para calon penerus negeri tinggal kami berdua empat mata menantap berlama-lama Ia bersandar di bahuku pipinya halus saat kusentuh "alergiku kambuh," luruh aku saat ia merengkuh Suaranya lirih lalu kami bercerita tentang masa silam tentang semua yang berharga untuk dikenang Ia memintaku bercerita tentang kota kelahiran ibunda dan adik-adikku Dan aku juga meminta hal yang sama Tentang ikhwal darahnya ibu kantin di sekolahnya lamanya magang di Teknora juga tentang adiknya yang kuliah di Jakarta Betapa lucunya saat ia merajuk waktuku bergurau "adikmu cantik ya," Sofa tipis berlapis warna manis di sisi jendela jam kecil kayu mahoni remah-remah roti di kaki kami Kedua bibir kami ...

Sang Alang

Akulah sang Alang sendirian di antara bebatuan langkahku terpenjara tapi jiwaku melalang buana sekenanya Akulah sang Alang penjaga setia bebungaan dalam keterbatasan serbukku telingkupi mereka Akulah sang Alang mataku selalu terbuka terjaga sepanjang malam hingga pagi menjelang Karena akulah sang Alang berdiri gagah di tengah hembusan badai dan letupan senapan (28 November 2010)