Langsung ke konten utama

Postingan

As I Walked Out One Evening

by W. H. Auden As I walked out one evening, Walking down Bristol Street, The crowds upon the pavement Were fields of harvest wheat. And down by the brimming river I heard a lover sing Under an arch of the railway: 'Love has no ending. 'I'll love you, dear, I'll love you Till China and Africa meet, And the river jumps over the mountain And the salmon sing in the street, 'I'll love you till the ocean Is folded and hung up to dry And the seven stars go squawking Like geese about the sky. 'The years shall run like rabbits, For in my arms I hold The Flower of the Ages, And the first love of the world.' But all the clocks in the city Began to whirr and chime: 'O let not Time deceive you, You cannot conquer Time. 'In the burrows of the Nightmare Where Justice naked is, Time watches from the shadow And coughs when you would kiss. 'In headaches and in worry Vaguely life leaks away, And Time will have his fancy To-morrow or to-day. ...

Sauh

cerita itu pernah terputus pada saat kita sama-sama haus lalu semua meratap tangan kita bersidekap mungkin bosan mendengar keluhan rintihan dariku darimu lalu semua meratap kita saling menatap dari kejauhan lambaian bergerak pelan di ujung buritan sepertinya, tiba-tiba kita saling menjauh saat ingin kembali mengangkat sauh

Selamat Datang Kisah Baru*

tiba sudah waktunya menghapus masa laluku yang selama ini terus menyiksaku teringat akan sakitnya dulu ku ditingal kekasih yang sangat aku banggakan tapi kini sudah tak berharga lagi ku sudah ada yang punya selamat datang kisah baru kini ku tak lagi sendiri tak berteman sepi tak berkhayal lagi dan aku bahagia selamat tinggal kisah lalu aku tak akan pernah kembali walau 'tuk sejenak untuk mengingatnya ku tak 'kan peduli *dipopulerkan oleh Jejaka

Surat Untuk Pelangi Pagi Ini

Hujan sudah berhenti tinggalkan angin mati sang gadis pun telah lama pergi langkahkan kaki dan lambaikan jemari Penantiannya bersama jerami paving blok museum pagi ini arca-arca peninggalan dinasti duduk bersisian dalam sepi Meski hujan berlalu sudah kenapa gelap masih berulah di punggung senja yang memerah pada ujung tahun penuh gundah Dimana lengkunganmu duhai pelangi dan awan biru kenapa tak jua penuh hanya mengintip sejak tiga bulan lalu Poster di pagar gedung tua itu juga tahu sebenarnya pelangi seharusnya ada setiap hujan reda wahai, rintik itu pun kurang lebih sama tinggal setitik di ujung tiang lampu merah Dia --gadis itu-- telah lama menantimu selalu berharap rindunya menyentuh lengkunganmu Ia duduk di atas luka berbelai dengan kata: menanti! Duhai pelangi, ia ingin kau kembali jangan biarkan ia sepi terbaring pada malam dan pagi lalu tersiksa racun jemu yang abadi (13 Desember 2010)

Ekspedisi Menuju Ujung Bumi (2)

Bagian Kedua: Dalam Perjalanan Langit mendadak tak bersahabat. Samudera menderu semaunya tiba-tiba. Kapal sang Nahkoda oleng begitu rupa. "Berpeganglah pada sajak dan tiang," jerit panik gelembung-gelembung di sisi barat. Kacau! Lalu semuanya jadi putih. Tersadaria, pelangi tak lagi merupa di garis cakrawala. Pun, tiada terpantul di samudera Pelangi lenyap begitu semua harap tersesap (25 April 2011)

Ekspedisi Menuju Ujung Bumi

(Awal Perjalanan) 1. Angin tertahan. Sedikit mati. Dan, hujan pun pelan-pelan menghilang di balik bayang-bayang bulan. Derai ombak bergerai sendu di tepian itu perahu. Dayung dan layar tiada lagi bergetar, meski di setiap yang tersinggah begitu banyak rasa yang terhampar. Bunga dalam jambangan pun kian layu, berganti perdu bersisian dengan empedu. 2. "Ekspedisi Menuju Ujung Bumi" begitu kata berita setiap hari. Nahkoda berkacamata berdiri dengan bangga di awal perjalanannya. "Saya kuat dan bercahaya," katanya ketika para pewarta mewancara. Lalu robekan kertas warna meletus mengiringi kayuhan pertama. Senyum manis dan wajah yang klimis tersenyum jemawa. "Laut adalah temanku. Dan badai adalah selimutku," ujarnya kembali kepada orang-orang di dermaga. 3. Semburat cahaya melintasi titik air sisa hujan siang hari, lalu melengkung dengan lekuk yang melankoli. Terpecah menjadi tujuh warna. Ah, pelangi yang sempurna. "Amboi! Indah nian pelangi itu," liri...