Langsung ke konten utama

Three Cups of Tea: Mencari Damai Tanpa Perang


“Saya belajar bahwa terorisme tidak terjadi lantaran segelintir orang di suatu tempat seperti Pakistan atau Afganistan tahu-tahu memutuskan untuk membenci kita. Hal itu terjadi karena anak-anak tak ditawari masa depan yang cukup baik agar mereka memilki alasan untuk memilih hidup daripada mati," (Greg Mortenson, Three Cups of Tea)

Petikan di atas adalah secuil pesan moral dari setumpuk pesan moral lainnya yang termuat dalam buku yang mengisahkan perjalanan hidup seorang manusia biasa dengan semangat, kepedulian, serta komitmen yang luarbiasa terhadap dunia pendidikan dasar anak-anak, khususnya anak perempuan.

Adalah Greg Mortenson, seorang pendaki gunung berkebangsaan Amerika yang selalu berhasrat untuk menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia, K2 (8611 dmpl) yang berada di pegunungan Karakoram, Pakistan. Dua kali ia mengadakan ekspedisi, dan dua kali pula ia gagal. Pada suatu saat di tahun 1993, ditengah misinya yang gagal untuk menaklukan K2, puncak tertinggi kedua di dunia, yang terletak di wilayah Karakoram, Himalaya, Greg tersesat saat menuruni pegunungan.

Akibat rasa kelelahan yang amat sangat dan disorientasi akhirnya Greg jatuh pingsan dan ketika terbangun, dia sudah dikelilingi oleh orang-orang asing yang bersahabat di suatu desa bernama Korphe, yang bahkan tak pernah ada namanya di peta dunia, suatu tempat di wilayah Pakistan Utara.

Selama berbulan-bulan Greg dirawat di rumah Haji Ali, tokoh tertua di Korphe, yang kelak bagi Greg dianggap sebagai gurunya. Menikmati hari-hari pemulihannya di desa terpencil namun berlatang belakang pemandangan indah nan dramatis, Puncak K2, Greg menemukan kedamaian batin.

Namun dibalik keindahan puncak K2 yang sangat menantang untuk ditaklukan itu, ia menemukan sebuah "gunung" lain yang akhirnya menjadi obsesi seumurhidupnya kelak. Gunung tersebut lebih terjal dari gunung yang sebelumnya selalu ia impikan untuk menaklukannya. Gunung tersebut bernama "kebodohan".

Di desa Korphe, sebuah desa miskin dan terpencil yang berada di atap dunia, Greg menemukan gunung tersebut. Delapan puluh anak-anak (tujuhpuluh delapan anak laki-laki dan empat anak perempuan) bersekolah hanya dengan duduk bersimpuh melingkar di atas tanah yang membeku, dalam udara yang dingin dan dengan tertib mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru yang mengajar tiga hari dalam sepekan. Sebagian besar dari mereka menggunakan tongkat kayu sebagai “pensil” dan tanah sebagai “buku”. Yang lebih beruntung membawa batu tulis dan menulis diatasnya menggunakan tongkat kayu yang dicelupkan ke dalam lumpur dan air.

Kondisi tersebut disebabkan lantaran desa tersebut tidak mempunyai sekolah dan tidak mampu untuk membayar gaji guru. Pemerintah Pakistan tidak menyediakan guru untuk mereka, sehingga desa tersebut 'berbagi guru' dengan desa tetangga yang jaraknya sangat jauh.

Semangat anak-anak desa Korphe yang tetap mengikuti sekolah meskipun dalam kondisi yang memprihatinkan tersebut membuat Greg Mortenson tersentak, bahwa ada gunung lain yang jauh lebih mengerikan dibanding K2. Kemudian ia berjanji untuk membuatkan sekolah di desa yang telah menerimanya dengan sangat baik tersebut. Sebuah janji yang tanpa ia sadari akan membuatnya menjadi sosok yang sangat diidolakan banyak orang kelak.

Dalam perjalanannya membangun sekolah di daerah terpencil tersebut bukan sekali dua kali ia menghadapi rintangan. Ia pernah mengalami diculik oleh suku bersenjata di Pakistan yang selalu curiga dengan orang asing. Ia pernah pula berada ditengah pertikaian dua kelompok penyelundup opium di daerah terpencil Afganistan saat hendak membangun sekolah di daerah tersebut. Tetapi, ketika mengetahui niat Greg untuk membangun sekolah bagi anak-anak di daerah-daerah miskin tersebut, Greg malah mendapatkan banyak sekali sekutu dan pendukung.

Kepribadian Greg yang menghargai tradisi asli daerah yang didatanginya, niatnya yang tulus, serta persahabatannya dengan beberapa orang suku asli yang telah sering membantunya dalam ekspedisi di pegunungan tertinggi di dunia tersebut membuatnya mudah diterima oleh beberapa suku lain. Meskipun ia seorang kristen. Hingga akhirnya setelah satu dekade, Greg telah membangun tidak kurang dari limapuluh satu sekolah dasar. Kisahnya adalah satu contoh yang sangat menakjubkan bagi orang-orang yang peduli dan bergerak di bidang pendidikan.

PENDIDIKAN ADALAH SENJATA

Bukan cerita tentang kehebatan Greg Mortenson yang telah berhasil membangun sekolah di daerah-daerah terpencil itulah makna sebenarnya isi dari buku setebal 630 halaman ini, melainkan sebuah diskursus tentang bagaimana pendidikan memiliki peran yang sangat vital dalam mencapai kehidupan yang damai.

"Saya bukan ahli militer," kata Mortenson. "Dan angka-angka ini mungkin saja tidak tepat. Tetapi, sepengetahuan saya sejauh ini kita telah meluncurkan 114 misil Tomahawk ke Afganistan. Sekarang coba pikirkan harga sebuah rudal seperti itu, yang diujungi sistem kendali Raytheon, yang saya kira berharga sekitar $840.000. Dengan uang sebanyak itu, Anda dapat membangun lusinan sekolah yang bisa menampung puluhan ribu siswa dan memberikan pendidikan seimbang, non-ekstremis pada mereka selama bergenerasi-generasi. Yang mana yang menurut Anda akan membuat kita lebih aman?" (hlm. 551).

Ketika Greg sedang membangun sekolah-sekolah di daerah terpencil itu, Amerika sedang mengadakan gerakan anti-teroris dengan mengebom sejumlah tempat di Afganistan yang disinyalir sebagai tepat persembunyian kelompok ekstremis, Al-Qaedah, yang dituduh sebagai dalang dari penghancuran World Trade Center dan Pentagon, dikenal sebagai peristiwa 11/9. Dan, Pakistan sedang gencar-gencarnya berperang dengan negara tetangganya, India, dalam perang yang telah berlangsung selama sembilanbelas tahun di ketinggian pada daerah perbatasan antara dua negara tersebut.

Afganistan luluh lantak oleh bom. Kehidupan seakan-akan mati. Sekolah-sekolah di negara itu rusak berat akibat peperangan. Di Kabul, salah satu provinsi di Afganistan, hanya 20% dari 159 sekolah yang cukup fungsional untuk mengadakan kegiatan belajar mengajar, selebihnya diadakan di gedung-gendung yang masih cukup layak. Guru-guru harus berjuang keras untuk menampung sekitar tigaratus ribu siswa secara bergantian.

Milyaran juta dollar dikeluarkan untuk biaya perang, baik itu Amerika yang meluluhlantakan Afganistan maupun Pakistan dan India yang perangnya tidak pernah usai. Terorisme dan perang telah merenggut kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak berjuta-juta anak-anak di pedalaman Himalaya itu.

Di televisi-televisi internasional kerap kali ditayangkan anak-anak -yang seharusnya duduk manis dan menerima pelajaran sambil menulis di buku catatan, memegang senjata otomatis dengan raut wajah yang dimanipulasi agar sangar dan menderita. Tempat mereka adalah di sekolah, bukan di medan tempat orang saling mencacah. Mortenson menyaksikan betapa kelompok radikal rajin merekrut remaja belasan tahun. Hanya dengan imbalan US$ 300, anak-anak itu menyerahkan hidup mereka kepada Taliban. Ibu-ibu yang berpendidikan, menurut Mortenson, lebih kuat melindungi anak mereka dari godaan untuk bergabung dengan kaum militan. “Itu sebabnya, mendidik perempuan sangat penting,” katanya.

Kerja keras Mortenson membuktikan bahwa pendidikan adalah cara jitu menekan terorisme, bukan bom atau rudal. Seperti tonik, dia memberi darah baru bagi masyarakat yang miskin dan terabaikan. Pendidikan sanggup membuka cakrawala di tempat sedingin dan setinggi Himalaya.

Lebih dari sekadar membangun gedung, Mortenson adalah contoh tentang bagaimana merangkul sesama manusia dengan tulus. Kerja humanitarian yang tidak membuat orang menadahkan tangan, tapi menempatkan orang yang ditolong dalam posisi bermartabat. Membuat Mortenson menjalin sebuah hubungan yang unik dimana saat itu, dunia barat merasa phobia dengan 'janggut dan sorban'.

Bahkan Letnan Kolonel Christopher Kolenda, perwira Amerika yang bertugas di Afganistan, memuji kerja Mortenson. “Saya yakin, solusi jangka panjang di Afganistan adalah pendidikan,” katanya. Sebuah paradoks terjadi. Di satu sisi, pemerintahan Bush mencoba menghancurkan terorisme dengan cara instan dan kejam (perang dan bom). Di sisi lain, Mortensen mencoba 'menghancurkan' terorisme dengan jalan yang sangat berbeda dengan Bush, pendidikan. Sebuah cara yang sangat damai dan manusiawi, yang tentu saja juga berlaku untuk Indonesia.

Ditulis bersama jurnalis, David Oliver Relin, dengan gaya jurnalisme sastrawi yang mudah dibaca dan dicerna serta menyajikan fakta dan komentar-komentar dari orang berkecimpung dalam pembangunan pendidikan di pegunungan Himalaya tersebut. Buku ini sangat disarankan untuk dibaca oleh orang-orang yang peduli dengan masalah pendidikan, terlebih lagi bagi yang berkecimpung dalam dunia pendidikan.

==========
DATA BUKU
==========
Judul: Three Cups of Tea
Pengarang: Greg Mortenson dan David Oliver Relin
Jumlah halaman: 630 halaman.
Penerbit: Penerbit Hikmah
Cetakan: III, Januari 2009

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat untuk calon menantu

Wahai kekasih anakku
kau boleh panggil aku apa saja
mama, bunda, atau ibu
karena sebentar lagi kau pun akan jadi buah hatiku

Ibu bahagia
mendengar kabar darinya
kau memilih dia
dampingimu selamanya

Sebelum kalian membuka pintu baru
dan kami memberi restu
izinkan ibu
melantunkan sesuatu

Calon menantu, sembilan bulan ibu mengandungnya
diazani ia oleh si bapak
genap delapan bulan dilangkahkan kakinya
satu tahun dua bulan ia merengek minta salak

Ia memang bukan lelaki bijaksana
kerap tingkah dan lakunya membuat kami gelengkan kepala
tapi, calon menantuku, yakinlah
ia adalah orang yang pertama tiba
dan memapahmu saat kau terjatuh dari tangga

Sungguh keras kepala ia
bahkan keluarga di sini suka pusing dibuatnya
tetapi ia akan berada di garis muka
meski akhirnya ia mendapat cemoohan dari yang dihadapinya

Belikanlah pakaian yang pantas untuk ia
sekali saja
menjelang hari raya
karena ia merasa cukup dengan baju koko dan sarung biru kotak-kotaknya

Mengajilah bersamanya
ia bukan tak kuat agama
ibu menyekolahkan ia Madrasah Di…

Membaca Ending Video Klip ‘Akad’ Payung Teduh

Mungkin ini sangat terlambat buat menulis soal video klip terbaru dari Payung Teduh, Akad. Sudah lebih dari dua bulan sejak video klip itu diunggah di YouTube. Tapi biarlah, karena memang perspektif ini baru saya dapatkan setelah menonton video klipnya.
Baru nonton? Iya, saya baru nonton video klipnya, meski sudah mendengar lagunya pada Juli lalu. Kenapa baru nonton? Alasannya sih simpel, lagu-lagu Payung Teduh jauh lebih enak didengar pakai headphone sambil tidur-tiduran, jadi video klipnya pun tidak terlalu penting.
Beberapa hari lalu, sambil nemenin Aleesya main, saya iseng googling soal ‘Akad’ ini. Hasil pencarian menampilkan berita mengenai video klip lagu ini di-blur, ditarik kembali, diunggah yang baru, dan ending yang menyedihkan.
Lantaran penasaran, saya buka YouTube dan menontonnya. Tak perlu bicara banyak mengenai jalan cerita video klip itu; seorang lelaki paruh baya yang menjadi supir taksi online, penumpang yang beragam: sepasang kekasih, satu keluarga kecil, perempuan yan…

Sajak Bujang Tak Punya Uang

Sabtu ini terlihat sendu
ketika kusadari betapa tipis ini saku
dompet biru merajuk malu
saat kusapa, "Aku kangen kamu,"

Cicilan motor
ponsel canggih dari kantor
"Dor!"
lemas aku diteror

Ingin aku bertualang
tapi bisakah bensin dibayar dengan kata: sayang?
sementara perut sudah bergoyang
karena belum diisi sejak siang

Oh hari Sabtu
tangki bensin berdebu
duhai malam Minggu
meringkuk memegang erat perutku

(15 Januari 2010)