Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2010

Air (mata)

Airmata ini seakan tak mau berhenti
sementara air wudhu mulai mengering di rambutku yang keriting

Tiap kali ku menghadap-Nya
doa-doa tanpa rima kupersembahkan kepada ia

"tentang kebahagiaannya,
mimpi-mimpinya, keluarganya, juga semangatnya,"

Karena semakin jauh untuk melepas sauh
cukup kujaga ia melalui Dia

Karena hanya itu yang bisa kulakukan
sebelum kenangan tentangku di dirinya terhapus pelan-pelan

(14 Desember 2010)

Sendiri

by: Sang Alang

Di pantai ini
ku nikmati nyanyian dedaunan
mengalun manis dimainkan angin

Mengajakku 'tuk kembali
mengenang setahun yang lalu
kala itu mimpiku dan mimpimu masih menyatu

Kala hari mulai senja
kau bersandar di bahuku
kita nikmati surya tengelam

Dan kau tulis nama kita
di atas pasir putih
sambil kau berucap semoga cinta kita 'kan abadi

Andai saat ini kau ada di sisiku
aku takkan sendiri
dan tak sekedar mengenang cinta kita yang pernah ada

Sendiri ku kembali
mencari cintaku yang hilang
hamparan pasir putih dan ombak yang bergulung

Jingga mentari senja
adakah kau simpan kisahku
yang tenggelam bersamamu, yang terbenam bersamamu

Rumah (1)

Desah angin malam ini
dendangkan suara nyanyian hati
pagar-pagar yang mulai berkarat
memberi salam pada langkahku yang berat

Kenangan menyusuri jejak kaki
jerat serta jerit saling memaki
limbung di tengah lumbung
tiada lagi tali itu tersambung

Hujan, pelangi, dan melati
ingatannya memenuhi
rumah itu terasa panas
oala, hati ini teremas

Pertengahan bulan setelah Lebaran
pondok bambu dan nyamuk hutan
airmata dan kekecewaan
dia terlihat dewasa seperti malam

Lama, kusadari realita
ternyata telah terusir aku dari sana
rumah yang pernah ku pastikan selamanya
pekarangan, ruang tamu, kamar tidurnya asri... saujana

Syahdan, di kala senja memerah
ku selalu pulang ke sana
membawa segenap penat
yang segera lenyap saat jemari itu tergenggam erat

Tak terbuka kini
pintu rumah itu lagi
seperti sales asuransi
perlahan aku terusir pergi

Sekian jauh perjalanan
aku selalu kembali ke sana
di saat mesti bertahan
tubuhku lelah lalu kalah

Wahai, masih terlintas sketsa raut rumah itu
pinus di tepiannya berdesir berlagu
senandung rindu dari sit…

Asri

"Ushollii fardhol ashri
arba'a roka'atin,"

Sajadah cokelat
alas sholat
sekejab
tercekat

Tatap diriku
yang menuju ruku
airmata meluruh
padahal baru rakaat ke satu

Tak kuusap
biarkan hangatnya tersesap
dan aku tahu, pada saat itu
segala harap kugantungkan pada Yang Satu

"Ushollii fardhol 'ashri
arba'a roka'atin,"

(7 Desember 2010)

Kisah Hingga Pukul Dua

Ruang tamu rumah bercat biru
tiga hari sebelum hari Kartini
kami mendekatkan hati
setelah beberapa hari hanya saling menggenggam jemari

Teh hangat tak terlalu manis terhidang
berikut panganan pasar
koran hari minggu alasnya
rokokku tersembunyi di saku celana

Ibunya baru saja pergi
mengawasi ujian para calon penerus negeri
tinggal kami berdua
empat mata menantap berlama-lama

Ia bersandar di bahuku
pipinya halus saat kusentuh
"alergiku kambuh,"
luruh aku saat ia merengkuh

Suaranya lirih
lalu kami bercerita
tentang masa silam
tentang semua yang berharga untuk dikenang

Ia memintaku bercerita
tentang kota kelahiran
ibunda
dan adik-adikku

Dan aku juga
meminta hal yang sama

Tentang ikhwal darahnya
ibu kantin di sekolahnya
lamanya magang di Teknora
juga tentang adiknya yang kuliah di Jakarta

Betapa lucunya
saat ia merajuk
waktuku bergurau
"adikmu cantik ya,"

Sofa tipis berlapis warna manis
di sisi jendela
jam kecil kayu mahoni
remah-remah roti di kaki kami

Kedua bibir kami lalu bercerita
dalam jarak sepanjang b…

Sang Alang

Akulah sang Alang
sendirian di antara bebatuan
langkahku terpenjara
tapi jiwaku melalang buana sekenanya

Akulah sang Alang
penjaga setia bebungaan
dalam keterbatasan
serbukku telingkupi mereka

Akulah sang Alang
mataku selalu terbuka
terjaga sepanjang malam
hingga pagi menjelang

Karena akulah sang Alang
berdiri gagah
di tengah hembusan badai
dan letupan senapan

(28 November 2010)

Merejang Jaring

lelaki renta setengah baya
erat menggenggam jala
satu, dua, tiga
hanya itu ikan yang didapatnya

"mbok, kita puasa saja,
biar itu untuk anak-anak"

akhir bulan yang tak terang
kembali jala terbentang
lengan itu bergetaran
sementara ikan tiada terjerang

"tak apa Pa'e. Kita masih bisa puasa,
uang yang kemaren ta' tabung untuk anak-anak sekolah"

(Bd.Lampung; 5 November 2010 )

Teman Bermain

dia, teman bermain sejak kecil
menikmati tanah becek di lapangan yang sekarang jadi kontrakan
mencari belut di sawah yang sekarang jadi pabrik kain kasa
berenang di kali yang sekarang jadi hanya selebar selokan
menghirup udara pagi yang sekarang penuh cacimaki supir taksi dan metromini

di pinggir Jakarta yang masih polos merona
kita bermain hingga perlahan menjadi tua
di atas tumpukan sampahnya
mendedangkan kematian
di pinggir Jakarta yang sekarang makin lebih tidak peduli

(Bd.Lampung; 23 November 2010; 02:00 AM)

Kata dan Kita

lalu sajak-sajak menjadi teman
penuh keakraban
dalam kehidupan yang sudah kuserahkan
pada kepasrahan

ataukah kehidupan itu sendiri adalah sajak?
dibaca
dirasa
diduga

keterkaitan makna
pada setiap kata
menjalin sulur-sulur yang mengikat
dalam setiap tulisannya

seperti gerak berkesinambungan
dari lengan
pada kaki
menuju ruang dalam hati

begitu perih
saat sajak-sajak menjadi ungkapan
semua kegundahan
maknanya baru ketahuan belakangan

berdenyut tiap sudut dalam kata
sajak kita merona
unsur-unsurnya berlomba
pada suatu senja di sisi kalimatnya

kita hidup dengan kata
hirupkan rangkaiannya
berdentinglah,
secangkir teh itu lautannya

(21 November 2010)

Gerimis

Song by: Kla Project

Musim penghujan hadir tanpa pesan
Bawa kenangan lama t'lah menghilang
Saat yang indah dikau di pelukan
Setiap nafasmu adalah milikku
Surya terpancar dari wajah kita
Bagai menghalau mendung hitam tiba

Sekejap badai datang
Mengoyak kedamaian
Segala musnah
Lalu gerimis langit pun menangis

Kekasih, andai saja kau mengerti
Harusnya kita mampu lewati itu semua
Dan bukan menyerah untuk berpisah

Sekejap badai datang
Mengoyak kedamaian
Segala musnah
Lalu gerimis langit pun menangis

Kekasih, andai saja kau mengerti
Harusnya kita mampu lewati itu semua
Kekasih, andai saja kau sadari
Semua hanya satu ujian 'tuk cinta kita
Dan bukan alasan untuk berpisah

Surat untuk calon menantu

Wahai kekasih anakku
kau boleh panggil aku apa saja
mama, bunda, atau ibu
karena sebentar lagi kau pun akan jadi buah hatiku

Ibu bahagia
mendengar kabar darinya
kau memilih dia
dampingimu selamanya

Sebelum kalian membuka pintu baru
dan kami memberi restu
izinkan ibu
melantunkan sesuatu

Calon menantu, sembilan bulan ibu mengandungnya
diazani ia oleh si bapak
genap delapan bulan dilangkahkan kakinya
satu tahun dua bulan ia merengek minta salak

Ia memang bukan lelaki bijaksana
kerap tingkah dan lakunya membuat kami gelengkan kepala
tapi, calon menantuku, yakinlah
ia adalah orang yang pertama tiba
dan memapahmu saat kau terjatuh dari tangga

Sungguh keras kepala ia
bahkan keluarga di sini suka pusing dibuatnya
tetapi ia akan berada di garis muka
meski akhirnya ia mendapat cemoohan dari yang dihadapinya

Belikanlah pakaian yang pantas untuk ia
sekali saja
menjelang hari raya
karena ia merasa cukup dengan baju koko dan sarung biru kotak-kotaknya

Mengajilah bersamanya
ia bukan tak kuat agama
ibu menyekolahkan ia Madrasah Di…

Kisah Hujan

(1)
Panas matahari dan riak gelombang membentukku. Memuai lalu endapkannya. Kelabu warna tiap-tiap punggungku. Aku naik ke angkasa. Bersenda gurau dengan burung-burung manyar yang kebingunan mencari anaknya. Hembusan angin perlahan bawa aku ke segala penjuru dunia.

Begitu tenang melihat semuanya dari sini. Sepi. Sendiri. Memburat pelan-pelan.

Perjalanan ini begitu mengasyikan. Tiap benua memiliki rasa yang berbeda. Biru, merah, kuning, hitam. Tetapi, matahari itu kian membuatku penuh. Dan pelan-pelan, rupaku jadi menyeramkan. Kelabu hampir menghitam. Punggung-punggungku semakin membungkuk. Tiap sudutnya dipenuhi titik-titik air dari samudera itu.

Ternyata berjalan sendirian tidak menyenangkan. Seperti orang asing di tengah pasar kambing, “Di atas lautan ini aku sendirian. Hampir gila rasanya,” keluhku pada daun kelapa di ujung tanjung.

Seperti pendaki gunung, beban di punggungku berat memuat. Titik-titik itu mulai membuncah sedemikian rupa hingga aku tak tahu lagi yang mana.

“Kemana kutuang…

Surat Keduapuluh

Kamis, 11 November 2010
Untuk Hamparan Mimpi dan Harapan-ku, Kekasih,

Apa kabarmu, kekasih? Sudah lama aku tak menyapamu. Entahlah, aku seperti tiada lagi ada di dunia kita. Bahkan, mimpi-mimpi yang dahulu selalu jadi tempat peraduan, kini seperti menghilang. Aku rindu padamu.

Aku ingin bercerita, sedikit, tapi begitu dalam. Beberapa hari yang lalu, perempuan yang membuatku ada menghubungiku. Beliau meminta aku untuk pulang. Bukan hanya "pulang", tetapi benar-benar "pulang" secara harfiah. Kembali dan hidup di sana, kota besar dimana aku tidak pernah suka.

***

"Nak, sudah, pulang saja,"

"Nanti, Bunda. Saya belum bisa,"

"Apalagi, Nak? Bukannya sudah selesai semua?"

"Belum, Bunda,"

"Lalu apa? Pekerjaan? Atau, kamu masih berharap dengan dia?"

"..."

"Nak, Bunda tahu semua. Ini mungkin firasat orang tua. Tetapi Bunda rasa, tak ada lagi yang tersisa untuk kam…

No Racism, Please?

Malam itu saya dan kawan-kawan menonton semifinal liga Inggris, MU vs Totenham Hotspurs. Tiba-tiba seorang teman nyeletuk, "Ya ampun! Item banget Evra (bek kiri MU). Ga ada lagi yang gantengan apa?" Oh man! Saya cuma bisa nyengir-nyengir miris mendengar celetukan itu.

"Sejak kapan kualitas seseorang ditentukan oleh keadaan fisik?" gumamku.

Kadang kala saya merasa, kita sangat naif. Contohnya, celetukan teman saya tadi. Walau pun cuma humor, becandaan, celetukan, tetapi itu bisa terdengar sangat menyakitkan. Terlebih, jika seseorang pendengarnya memiliki ciri-ciri fisik seperti si Evra tadi (Negro=item, jelek, keriting).

Lalu apa salahnya menjadi seorang negro? Toh sang pelatih sendiri, Sir Alex Ferguson, tidak mempersalahkannya, pun dengan pelatih-pelatih tim lain. Karena hanya satu alasan mereka yang mereka tahu: kualitas.

Saya heran, juga geram. Kenapa kita bisa begitu rasis dalam keseharian kita?

Media-media pun jadi begitu rasis dalam pemberitaanya. Contohnya, tablo…

Musik (kita) yang tak lagi asik

Salah siapa jika perkembangan musik di Sai Bumi Ruwa Jurai ini menjadi mandek. Hanya berorientasi kepada kepentingan pasar?

Sore itu, lima pemuda berusia belasan terlihat asik dengan sebuah percakapan di sudut sebuah sebuah studio musik. Masing-masing dari mereka memegang kertas berisi catatan lirik lagu. Beberapa dari mereka memegang gitar akustik.

"Ganti aja nih yang ini. Jangan cinta matiku, tapi, mutiara hidupku," ujar seorang pemuda berperawakan sedang yang duduk agak di sudut. Empat kawannya yang lain setuju. Ia kemudian mencoret sebaris kata yang tertera pada kertas yang ada dihadapannya. Mereka lalu menyanyikan ulang lagu yang baru diubah tersebut.

Setelah saya mendengar secara utuh lagu yang akan mereka rekam tersebut. salah seorang diantara mereka berkata, "Wah, bakal keren nih lagu. Abis ini kita tawarin ke label yuk, siapa tahu bisa tembus," ujarnya sambil memetik gitar.

Saya kemudian menghampiri dan bertanya tentang motivasi mereka rekaman. Dengan gamblang…

Anak-anak pada dunia kedewasaannya

Ketika Anak-Anak Kehilangan Kekanak-Kanakannya

Ketika anak-anak
Kehilangan kekanak-kanakannya
tiada musik atau tarian yang kini
mampu menggambarkan jiwanya
Tiada keceriaan dan kepolosan
Semua hilang bersama polesan-polesan bedak pergaulan
Tiada pakaian yang mampu menggambarkan
sisi kekanakannya
Pakaian yang dikenakan adalah kedewasaan
yang belum semestinya
Tiada permainan karet ataupun kelereng
karena permainan yang dimainkan adalah
permainan kehidupan
Ketika anak-anak telah kehilangan
masa kanak-kanaknya
Secara ikhlas ataupun terpaksa
Diberikan atau direnggut oleh zaman
Ironis namun kenyataan

(010608)

----------
catatan;

Puisi di atas saya unduh langsung dari sebuah blog: www.kyokoque.wordpress.com.

Saya membahas puisi tersebut karena saya kagum. Mulai dari makna, subjek yang ditujukannya, pemilihan kata-kata yang lugas --baik itu dari pemaknaan leksikal ataupun gramatikalnya. Sebuah kontemplasi pemikiran yang (menurut saya) tidak dangkal.

"Ketika anak-anak kehilangan kekanak-kanakannya"

Banyak hal…

"Logisnya" Cinta

Hari masih terlalu pagi. Azan subuh baru saja berhenti. Dan warga sekitar terburu-buru menuju masjid agar tak tertinggal shalat berjamaah. Di luar, embun pun masih enggan menetes dari ujung dedaunan, meski ngengat, jangkrik, dan serangga malam lainnya telah menarik selimut menutupi kepala mereka sambil menunggu malam berikutnya. Dan saya, pun masih bergelut dengan rasa tidak ngantuk seperti biasanya.

Hari masih terlalu pagi, saat sebuah teori –atau lebih tepatnya, pemahaman baru— mendadak berkelebat lalu mengendap di benak saya. Sebuah percakapan singkat di ujung waktu imsak menjadi pemicunya.

“Maaf kalau aku tidak bisa seperti perempuan lainnya, yang bisa dikunjungi kapan saja, yang punya waktu luang banyak, yang bisa diajak bercinta. Sayang, maafkan aku, dengan segala keterbatasanku,”

Pesan itu lalu berkembang menjadi pertanyaan-pertanyaan yang terlontar begitu saja. “Apakah ada perbedaan antara mencintai dan dicintai?”. “Jika ada, apakah akan terlihat dengan nyata?”

Lalu seperti ini te…

Sajak Terakhir Untuk Melati

usai sudah
di kelokan sungai itu dekat muara
kita berpisah
lepaskan sulur yang mengikat keberadaan kita

"duhai ranting patah, tak perlu kau tunggu
silahkan kau melaju
aku akan menuju ke arahnya.
tak akan kembali atau menepi,"

selalu ku kira sama itu coretan
cerita tentang hujan
obrolan ikhwal awan
dan nasi goreng yang kematangan

"wahai melati, pergilah
itu arusmu, ini arusku
tiada lagi ku menahanmu
aku tidak akan membual lagi,"

terkenang kembali
segala ini
sebelum kau pergi
saat kita mulai meniti

"dan mungkin kita tak akan sama-sama kembali menyusuri ini,"

tiada yang hangus
saat nama pada masing-masing ponsel terhapus
hanya belum ditulis-Nya nama kita pada kertas yang sama,
itu saja

(19 Oktober 2010)

Senandika Teh Tanpa Gula (3)

1.
"selesai sudah," kata hujan pada suatu malam saat teh tanpa gula dalam cangkirnya tiada lagi tersisa.

ya, musim hujan sudah waktunya berhenti dan biarkan pelangi melengkung penuh pada cakrawala. pada suatu pagi yang sempurna.

2.
apa yang terjadi, jika hujan turun setiap hari pada kota yang tanahnya tiada bisa menumbuhkan lagi padi.

tetapi hujan tidak pernah bisa menentukan dimana serta kapan ia akan melemparkan bulirannya bukan?

namun arus yang mengalir sudah seharusnya memiliki tujuannya. entah itu ke muara atau apa saja. mengalir sangat berbeda dengan terhanyut.

3.
bukan karena kesetiaan dan penantian melati kepada pelangi yang membuatnya gundah. "selesai sudah," ujar hujan yang pelan-pelan menarik diri dan mengisi cangkirnya dengan air sendiri.

dan ketika air mata tak mungkin lagi kini bicara tentang rasa, bawa ia pulang segera menuju alirannya jelajahi waktu ke tempat berteduh hati kala biru.

4.
secangkir teh tanpa gula menjadi sepi sendiri pada tepiannya saat menanti …

Hujan pasti akan datang kembali

kesepian ini bukan tak berarti
ia ada untuk membimbing kita yang makin jauh dari apa yang bisa diduga pada hati
lalu biarkan jerami-jerami dalam kebun ini
berdzikir dalam alunannya sendiri

seperti kita
telah lelah saling mencari

tidakkah kau ingat, sayang
begitu kebencian sekali terbayang
keteguhan hati akan goyang
kemudian rasa nyaman akan terbang

dan melati, biarlah hujan berhenti kali ini
agar kau putih kembali seperti kali pertama kau melangkah di sini

hujan pasti akan datang kembali
namun entah kapan tiada yang tahu pasti
tetapi tetap tepati ini hanya ujian pada diri
untuk kita saling bisa kembali menghargai

(27 September 2010)

Hujan di Stasiun Kota Kita

hujan datang
padahal siang masih benderang

gerimisnya pelan-pelan
basahi kembali dedaunan

"terselip di sudut stasiun tanjung karang,"

kereta itu penuh makian dan tatapan kosong sejuta pujangga
merangas pada sela jendela dan sambungannya

tanganmu yang selalu kurasa halus
menenteng sebuah kardus

"talinya hampir putus,"

selembar tiket biru
terselip di sakumu

basah
terkena ludah

"sementara hujan makin deras dan orang-orang berlarian dengan wajah memelas,"

pria berseragam polisi
berdzikir dalam hati

senapan laras panjang yang siap terkokang
menjadi luapan kegembiraan beberapa orang yang keluar menuju pulang

"kau masih terdiam dan ketakutan. pada basah. pada hujan yang melulu menggerutu,"

aku datang dalam guyuran hujan
badanku bopeng dan kedinginan

di sudut itu
melihatmu yang ketakutan. pada basah. pada hujan yang melulu menggerutu

"payung ini di tanganku. kemarilah, ku pinjamkan. jika kau tiada mau kehujanan,"

(25 September 2010)

Aksara awal yang tercecer

hujan ini tiada hentinya menggerus bumi
sempat cemas,
"apakah ia akan turut menghanyutkan pertemuan ini?"

lalu ia hanyutkan panas yang masih menempel di kulit
terus terang, kehadiranmu, telah membangkitkan sejuta rasa yang telah lama mati dikuliti oleh bidadari yang lain lagi

kau tetap datang. basah kuyup
dan hujan tak kuasa menahan gelepak sayapmu
terbang mendatangiku
dengan tatapan mata yang entah sampai kapan membuatku jengah

kau datang bawakan narasi yang belum terselesaikan
masih setumpuk adegan
yang mungkin tidak akan selesai meskipun dunia berbaik hati
untuk menceraikan siang dari siklus hidup lalu menjadikan malam sebagai istri pertamanya

hanya agar kita bisa bertemu dan bercengkrama laiknya dua burung hantu yang saling ber-uhu-uhu di dahan pohon yang merangas terkena petir sore harinya

ah, aku tak bisa memaksa
ku antar kau sejauh jarak yang memungkinkan
sedekat mungkin dengan lawan main dramamu berada

(19 September 2010)

Sejak Sajak Bermula

kupandangi kembali resep itu dalam kosakatanya yang tiada terlalu perlu ku tau.

gemetar jari ini. merinding alat tulis ini. tiap aksara berkilauan pada gemuruh retakan keinginan yang mulai runtuh.

masih kusimpan sepenggal kalimat yang tiada sempat terucap, karena Sang Waktu memaksa kita untuk segera berlalu dalam panggilannya, maghrib itu, yang (memang) tidak bisa ditolerir oleh apapun, --bahkan oleh airmata kita yang menyatu dalam luruh.

jika memang Neng ingin pergi dari sini. ikuti saja kata hati. bukan berarti aku tidak ingin kamu tetap di sini. tetapi, aku tersadar, rasa sayang ini membebaskan. bukan melepaskan. sejak sajak bermula pada perjalanan.
"dirimu adalah milikmu. bukan milikku. atau milik siapa-siapa. seutuhnya," tulisku pada dekstop komputerku yang tak ada suaranya.

kupandangi kembali resep itu dalam kosakatanya yang tiada terlalu perlu ku tau.

(17 September 2010)

Pertanyaan-pertanyaan miris dalam beberapa kisah yang sedikit melankolis

apa yang bisa menghentikan hujan selain tangis dedaunan yang merindukan kerlip pelangi yang berpedaran. dan ataukah gumpalan kekecewaan bunga yang kelopaknya robek pelan-pelan?

kapankah hujan akan terhenti. apakah pagi, saat embun membasuhi dan berdzikir sambil menunggu matahari. ataukah siang, ketika kepenatan dan haus memuncak dan hampir meledak. atau mungkin sore, dimana temaram membayangi kedatangan bulan tatkala senja yang muram menyusuri gedung-gedung dan jalan-jalan kota ini.

atau malam? ketika burung-burung hantu duduk murung di dahan-dahan perdu dan menyanyikan berlembar-lembar lagu sendu:
"Ku merenung, ku merenung. Kenali hati. Ku melaju, ku melaju. Menyelami hati. Aku tahu siapa aku, sebenarnya. Aku hanya seorang manusia belaka. Yang penuh dengan kesalahan dan kelemahan di dalam diriku. Yang penuh dengan kegelapan dan terang di dalam diri dan jiwaku."*
perlukah hujan terus membasahi, jika tanah ini seperti tiada peduli lagi, dan pelan-pelan melirih dalam tangis.

(14 S…

Senandika Teh Tanpa Gula (2)

1.
pada hangatnya, kidung singkat ini bergelora untuk kepingan hati yang bergetar deras dan rasa yang berundak pada angin serta harapan akan hujan. "semoga musim hujan masih berlarian di jalan setapak kebun kecil ini," bisikku.

2.
entah harus mulai dari mana. sejuk ini mulai melindungiku. bahkan ketika kejauhan itu melenakan. dan nestapa adalah nestapa tanpa tapal batas.

"apakah perjalanan akan berakhir sampai di sini saja? bahkan teh tanpa gula belum tersaji sepenuhnya?" ukirku pada tepian secangkir teh hangat berwarna pekat yang kemudian menjadi sejuta cerita.

sementara dirinya sendiri pun penuh rasa duga. ah, andai kau tahu, di beranda negeri atas angin itu, kehangatan adalah kemewahan.

3.
ah, keniscayaan yang membuatku seperti ini. saat sebuah ketidakyakinan yang menjelma dan merongrongku ke bawah tangga. mendorongku jatuh dari kaki langit.

masihkah sayang, kau simpan sejumput kisah kita yang baru lalu, yang selalu menguap dari secangkir teh tanpa gula yang kau sajikan…

Senandika Teh Tanpa Gula (1)

biasanya, selepasnya pukul setengah tiga. sambil tersenyum. di lantai dingin masjid pinggir jalan. kita bergegas memasang sepatu. lalu berlalu bersama angin dan rintik hujan

"aku tadi ketiduran lagi di depan komputer," bisikmu sambil tertawa kecil sementara jemari halusmu menyusuri punggungku yang berdebu

(jeda)

"Neng, aku rindu suasana itu,"

(jeda)

kemudian segelas teh berwarna cokelat seperti tertawa saat kita dengan ketergesaan yang terlampau ketara, mencoba meraih sedikit udara dari masing-masing bibir kita yang mengerucut dari balik koran hari minggu.

"Minum dulu tehnya, Aa," lengan kurus dan halus itu, lembut menyecapkannya perlahan. timbulkan getaran yang kian berkeretakan.

meski tanpa gula. teh itu manis terasa. hangat. uapnya mengepul begitu saja dan mengembun di kantung mata. "ah, nikmatnya," demikian ujarku berulangkali begitu tepian cangkirnya menyentuh bibirku yang berlapis nikotin.

(jeda)

pun tak terucap, teanin itu pendamkan kaffein ke bal…

Andai Saja Aku Adalah Pelangi

andaikan saja aku adalah segaris pelangi
dimana mimpi-mimpimu bisa berkelip dalam lirih
dan berpelukan pada senja yang temaram

akan kuberikan beberapa warna pada kenangan
dan kisah di hamparan tanah
lalu mengisinya dengan silsilah
serta bias-bias yang indah

"andaikan saja aku adalah segaris pelangi yang bisa memesonakanmu dalam lengkungannya,"

tetapi aku adalah hujan
dengan gerimisnya
yang menyebalkan

lunturkan riasanmu
basahi busanamu yang termangu di peron stasiun tua
menanti kereta terakhir
menuju ujung dunia

dan memang aku adalah hujan
yang penuh kesombongan
berkata mampu menanggung semua harapan

namun sepasang lenganku
bukanlah lengan yang sudah terlalu kau kenal
hingga acap kali
kau menantap curiga dan menduga-duga

"apakah memang ia?"

andaikan saja aku adalah pelangi
yang mampu memberi cerita
dalam jarak tempuh pada suatu pagi

dimana restu dan doa akan surga
menjadi nyanyian dari bunga-bunga

"sialan! aku ingin benar-benar menjadi pelangi!"

(15 Agustus 2010)

picture: kuke.wordpre…

Musim Hujan Masih Panjang

1.
kita menyebutnya senja
pada saat aku menunggumu
di depan minimarket
sejak empat bulan itu

"kenapa hujan itu ada, selalu saja saat senja?"

entahlah,
mungkin ia ada untuk menenangkan
kau, juga aku yang acapkali bergelora
dalam buaian rindu yang melepuh

namun ia tak pernah reda
dan kau pun tak pernah membuka payung
yang selalu tersimpan di dalam tas

2.
"aku tak bisa membohongi nurani," getar suraimu bangunkan aku

ya, tak apa
memang pelangi itu indah
tak hanya kau,
siapapun akan terpesona

dan dalam perjalananmu
gemetarku basahi kaki mungil
serta mata sendumu
yang terus menanti pelangi

"tetaplah kau di sini temani perihku,"

3.
aroma melati gantikan manisnya gula
pelan-pelan aku mabuk dalam uapnya
sementara tanganku terus merinai pada buaian peluh
kemudian luluh dan melekat penuh

"ah, seandainya semua indah dan lurus seperti sawah-sawah yang terlihat berkelebat dari jendela kereta,"

lalu kau menyebutku hujan
mungkin
karena setiap kita merupa
hujan dengan segera membasahi kita

"…

Empat Bulan dan Tiap Malam

kerinduan ini teramat panjang, seperti curahan hujan bulan juni yang tiada terlalu peduli. malam itu terlalu panjang, hampir mati aku dibuatnya dalam detik-detik yang bergerak lamban.

"ternyata pagi masih lama sayang, kecupan riangmu itu di telingaku adalah ucapan selamat pagi pengganti harum kopi yang hampir habis,"

empat bulan dan tiap malam. pagi kutunggu dalam diam dan kecemasan akan rindu.

(15 Juni 2010)

Hujan dan Kita

Angin:puisi ini berawal dari rasa rindu
yang meluruh pada hari yang bergemuruhtitik-titik air lalu jatuh
menyentuh jejak-jejak langkah kecil itukau
dan akudua hati yang gamang
berpelukan dalam hati yang bergenggamanmaka jadilah hujan
pada senja yang temaramrumput-rumput kering lalu basah
senyum mereka merekahseperti tawa kita
diantara buaian dua rodadan kita menjadi hujan
di dalam kegetiran bagi masing-masing kitaAir:Kau
adalah lembaran angin yang berhembus
Aku
Adalah tetesan air yang bersatu menjadi samudra yang dalamSaat kau menguapkan tetesan air
membawanya bersama menuju langit
dan mengumpulkannya kembali
kau jadikanku cumulonimbusKita bersatu
dalam desau yang berubah menjadi gemuruh
pada gelora yang menjadi kilatan cahaya
dari angkasa
lalu baurkan segala menjadi rintik kembaliMaka begitulah alasannya
mengapa kita menjadi hujan(29 Mei 2010)

Pemuja Matahari

Sebetulnya aku tidak menyukai senja. Bisa dibilang benci. Pada warnanya yang tidak jelas. Merah bukan jingga bukan. Nuansa gelap, selalu itu yang aku tangkap. Sebuah intro menyeramkan penghantar malam menggantikan siang.

Karena aku adalah pemuja matahari, aku tak pernah mau siang berganti. Matahari yang setia memberiku cahaya. Mencubit pipiku di pagi hari dengan sinarnya, membuat mataku kembali terbuka. Tersenyum geli melihat bunga-bunga mekar karena sentuhan sinarnya dengan tersipu malu. Matahari memberiku hidup kesekian kalinya setelah aku mati sesaat di malam yang gelap.

Karena aku adalah pemuja matahari, maka aku membenci senja yang datang memaksa. Menyembunyikan sinar pelan-pelan ke balik ketiaknya. Sangat menyebalkan saat ia kulihat tengah memereteli kelopak matahari satu-satu sambil tertawa diiringi tatap mencurigakan sang bulan yang mengintip dari sudut cakrawala. Apa mereka bersekongkol? Aku rasa iya. Senja lebih identik dengan malam, dan malam adalah kubangan sang bulan.

(24 Me…

Hanya Ingin Kau

ketika malam datang dan merupa segala kerinduan,
tersadar aku sendiri di ujung mimpi
segenggam keinginan berharap akan kehadiranmu,
di sisiku yang membeku
hanya cahaya bulan yang mengitariku,
bangunkan aku dari ranjang yang berdebu

ada sedikit pertanyaan yang mengambang dalam batas pendengaran,
apakah kau tahu betapa dinginnya di sini?
bodohnya aku ketika tersadar,
tak ada lengan mungilmu yang memelukku
kemudian tersesat dan hilang arahlah aku,
seperti matahari yang terbenam tanpa garis cakrawala

tiada dapat bermimpi,
bergerak terlalu cepat saat aku sendiri
hanya ingin kau di sampingku,
lambatkan putaran waktu
aku merindu,
seperti deburan ombak yang tak mencapai karang

(24 Mei 2010)

Sajak Sebelum Tidur (3)

seperti nyanyian jangkrik. aku akan merangkai dengkurmu menjadi komposisi dalam hidup tak berharmoni. menderasnya dalam birama sederhana. duatiga nada. hanya agar tiada lagi ruang hampa. pada esok. pada lusa. atau, pada suatu hari baik nanti.

(16 Maret 2010)

Baranya yang Terluka

(sebuah Ode utk Anggur Putih)

Kata-kata begitu hina ternyata, tak lagi bermantera, tiada lagi makna, dan sepi. Pledoimu ditanggapi sinis oleh kibaran buntut dari layang-layang yang melayang kian kemari dipermainkan angin senja setelah beberapa saat yang lalu benangnya putus.

"Tamparlah aku lagi dengan ciduhan air liurmu, Lelakiku! Ludahi kembali dengan air kencingmu, Lelakiku!" jeritmu di bibir botol bir yang kita beli di lapo tuak simpang empat, saat itu.

Sementara di luar, matahari sore masih asyik bermain dengan nyanyian dan menggoda babu-babu tua yang mengangkat jemuran baju tuannya di pekarangan belakang rumah-rumah mewah di pinggiran kota kita itu.

"Bangsat! Aku sungguh-sungguh mencintaimu! Tendanglah lagi aku, wahai Lelakiku! Perkosalah lagi harga diri ini dan keluargaku! Aku akan belajar menikmati itu!" kekehmu dalam intonasi kegeraman dan amarah yang meruap lalu menjadi satu dengan awan biru berpolusi.

***

Sahabat, masihkah adakah bara-bara kebencian dan cinta y…

Tetesan Hujan dalam Misteri Berkepanjangan

"apa yang menyebabkan turunnya hujan?" pertanyaan yang sama terlontar dari dua kelopak kita sore itu. senja yang muram tiada menggantung di hamparan langit berwarna kelabu sore itu, meski rintiknya mulai membasahi kemeja hitamku.

lalu sebuah jawaban yang agak sombong terlantun mengayun dari debu-debu yang meruak dari jalan berlubang yang tak terlihat oleh lampu sein motorku yang kerlap-kerlip, "keberadaan kalian mendatangkan rezeki kepada yang lain!" seru mereka sebelum menempel di bodi kendaraan yang lalu lalang menuju pulang, seperti kita.

pertanyaan itu masih menggantung begitu saja, meski hujan sudah reda saat kita menyusuri kegelapan menuju dataran tinggi tempatmu bersemayam.

"duhai, biarlah tersisakan tetesan itu pada genting-genting tua yang meluncur begitu saja di beranda. biarlah. tetapi, bukankah dinginnya masih terasa, bukan? bahkan mendungnya masih setia. sisakan beberapa potong misteri bagi kita tuk ditelusuri. duhai, pagi memang masih lama, dan mend…

Surat Kesembilanbelas

Jum'at, 30 April 2010
Untuk Melati di Dataran Tinggi,

Apa kabarmu, Melati? Masihkah adakah rona itu, rona senja yang kembali ada semenjak sang warna tiada lagi melekat pada ia? Masihkah ujung bibirmu melagukan selarik senyum dan manyun yang lucu?

Besok adalah Hari Buruh Se-Dunia. Hari Raya kita. Lebaran bagi kaum-kaum seperti kita. Buruh. Pesuruh. Dan, surat ini bukanlah tertulis karena aku terkena euforia atau sentimen semata.

Aku tidak berorasi. Suaraku tak lantang dan berwibawa. Pun tatap mataku tak bisa provokatif. Aku berorasi dalam tulisan. Dalam kata-kata yang berbunyi. Surat ini adalah gugatan kepada kehidupan yang membuat kita menjadi buruh akan keinginan dan harapan-harapan.

Oh, sebutkanlah kita menjadi penguasa atau pengusaha. Apakah kita tiada lagi menjadi buruh? Tubuh kita adalah buruh sejatinya. Aliran darah adalah buruh bagi jantung. Bekerja tiada henti, 24 jam sehari, asupkan oksigen, protein, atau apalah namanya. Jantung pun begitu. Mata pun begitu. Nurani pun begitu.

D…

Monolog Kopi yang Kemanisan (4)

12.
Hmm, kopi hitam ini nikmat sekali. Kental. Dan, tidak seberapa manis. Memang segini seharusnya takaran kopi itu. Cukup dua sendok makan kopi dan satu seperempat gula. Kemudian diseduh dengan air panas mendidih pada cangkir berukuran sedang. Tidak usah penuh-penuh, cukup tigaperempat dari cangkir tersebut. Lalu diaduk dengan sendok menyentuh dasar gelas atau cangkir. Biar kopinya melebur sempurna dengan air panas.

Tak hanya itu, cara menikmatinya pun tidak sembarangan. Tiup sedikit, agar tidak terlalu panas ketika menyentuh bibir lalu tempelkan, ingat, hanya ujung bibir saja yang menempel. Lalu seruput dengan semangat, sampai menimbulkan bunyi yang khas, “Sruuuuupphhhtt!!”.

13.
Hmm, bagiku, minum kopi, terlebih kopi hitam bubuk, bisa menimbulkan ekstase, ya seperti ibadah mungkin. Ada kenikmatan tersendiri ketika cairan kafein tersebut mengalir melewati lidah kemudian masuk ke tenggorokan dan berakhir di perut. Ada imaji yang tercipta saat uap kopi itu ikut masuk dan menyesap ke dalam …

Segelas Es Teh Manis

selayaknya es teh manis, kau taburi gula pada hati yang meringis. gelasku bergetar dalam debaran pada matamu yang memantulkan aku. "hmm, manis," bisikku melewati sulur rambut hitammu yang sebagian menutupi wajahku.

dua lembar bibir kita kemudian menari kembali dalam birama yang sama. dalam getaran yang merindukan. "sepertinya, aku sudah kecanduan kamu," petikku dalam tangga nada yang berirama merahjambu.

lingkaran rindu itu mencegah aku untuk pulang lebih cepat. mendekap dan beruntai kian panjang. kita berbagi debaran seiring jarum detik yang lentik. "10 menit lagi. aku ingin uapkan kerinduan ini," pinta jemariku mengiba.

dan memang benar kata orang, waktu takkan terasa bila kita mencinta.

kita begitu haus dan kering. segelas es teh manis itu tiada pernah kosong. terisi lagi dan lagi. "hmm, manis," kataku lagi di tepian kelopakmu.

(21 April 2010)

Kontemplasi dalam Lamunan

kontemplasi dalam lamunan
bulu mata itu berderap pada jajaran
oh, duhai kekasih dengan pesonamu
teteskan airmata pada gelas anggurku

lihatlah dengan kedua mata indah itu
lihatlah betapa kau berarti bagiku

kue dan susu ini manis, ternyata

(jeda)

aku adalah malaikat pemimpi
aku adalah khayalan yang berpawai
aku ingin kau mengetahui apa yang kupikirkan
tak perlu kau mengira-ngira lagi

(jeda)

kau tiada tahu darimana ku berawal
kita tidak tahu tujuan atau kemana kita akan pergi
hanya mengalir dalam hidup
seperti ranting yang terhanyut pada aliran sungai
ikuti lekukannya sampai ke muara
dan, kadang terjebak pada arus

(jeda)

aku akan menjagamu
kau pun akan menjagaku
itulah yang semestinya akan terjadi

(jeda)

tidakkah kau mengetahui aku?
tidakkah kau mengetahui aku, sekarang?

(18 April 2010)

Setengah Jam Setengah Berpelukan

alkisah, dahulu hujan rintiknya melagukan kesepian. uap dinginnya berkeretak pada riap sunyi dedaunan. bekukan bulir airmataku yang mengalir dalam ketergesaan.

(jeda)

1.
entah kenapa setiap kita merupa manusia, langit selalu meneteskan air matanya. tangis sedih atau bahagiakah ia? namun, aku suka hujan malam itu. lembut mengalir di sela-sela jariku yang menelusupi ruas kelopakmu.

2.
setengah jam setengah berpelukan. binar itu menembusku. agak dingin karena angin. "dingin. aku mau merokok," bisikku di bawah tatapanmu yang kemudian menjadi tajam.

sebungkus rokok lalu basah. kupatahkan semua lalu melepuhkannya pada etalase tong sampah. senyummu sisihkan dingin itu ke kantung belakang celana jins biruku.

3.
jemari kita menyatu pada hangat pada untaian derasnya tirai hujan sabtu malam. butir airnya melepas semua ambigu dan keraguan. aku merasa nyaman dan tenang di senjamu.

(jeda)

tempo hari, lubang di tengah jalan itu merajut rindu meski hitungan kesepuluh belum berlalu. "hatur n…

Kulukai-kulari-kumati

tiada sengaja kulukai kelopaknya. keraguan ini kambing hitamnya. "bulirku meretak pada rangkaian dahan pete," kata dia dalam helaian minggu ke empat yang terasa jahat. aku merasa bersalah kemudian.

sebenarnya, aku masih ingin tetap bercanda di tiap robekan helai kelopaknya. namun keraguan ini amat mengganggu. ketidaknyamanan pada hati pada diri. "aku cemburu dalam untaian ambigu!" jeritku dari dalam lubang tempatku terjatuh.

duhai melati, andai tiap senja kau selalu ada. andai setiap malam kita selalu bersendawa. tanpa perlu kita terikat pada suatu ekspektasi dan hanya bergantung pada kompromi dan cuma saling mengelus pipi dengan toleransi.

"aku merasa amat bersalah kemudian!"

melati pada dataran tinggi. aku pergi ke tempatmu, bukan untuk memetik, hanya lirik dan berlirih.

(6 April 2010)

Geram Melati

melati, harmoni itu agak terganggu dengan datangnya sedikit rasa malu. terbunuh akan kecemasan yang tak perlu. ya, lempar saja aku dengan makian itu.

rasa luka itu terlalu mengena. ketakutan aku akan bentang sayapnya. berulangkali terbakar. acapkali menggelepar. namun, gemerutuk gerammu membawaku pada perjalanan yang menyenangkan.

(jeda)

ada sajak yang membeku pada catatan harian ketika tawa dan canda terpenggal. biarlah berlalu. satu akan membuat catatan yang baru. karena dari semua yang pernah aku jalani. di situ yang berikan damai.

ada penggalan cerita yang tercecer pada aksara penuh iba. pada deretan kata penuh kebodohan waktu yang tak berwarna. pada coretan dinding kearifan yang hilang kendali. namun, ada pula retakan yang mulai terjahit dengan nyaman.

(jeda)

melati, masih ku simpan rindu itu. pada percakapan tengah malam dalam sebaris kalimat tak selesai dan sketsa doa tentang rona akan senja.

pada senjamu kutanggalkankan rasa malu. kemudian membuangnya ke sudut mati akan pilu. "m…

Rajam Rejam Resam

kau tertatih dalam luka. rajam rindumu sendiri yang melecutnya. terkapar. lelah. tapi tak punya asa tuk berulah.

sebutlah kau orang yang terluka. pun demikian dengan aku. luka ku menganga. banal. brutal. serap jiwa. serat jiwa. sarap jiwa.

"kalian orang-orang yang terluka. menyatulah pada gemintang dan kegetiran!" koor lembaran-lembaran kertas yang tersunyi dalam padang ilalang.

dibalik percakapan-percakapan tengah malam itu. kita saling menangisi pemberlajaran akan kepasrahan pada jiwa. datang mengisi presensi. silih berganti dengan tuntutan dan geram harapan.

jangan ragukan. takdir itu tlah terbawa kita pada alurnya. dan akan terikuti sampai mana muaranya. dalam batas yang mencekikkan doa. akan harap untuk bisa melebur bersama.

(30 Maret 2010)

Tak Lagi Merona

"berjanjilah! untuk tetap melantunkanku!" lenguhmu lemah pada warna-warna yang berjingkrakan dengan gelora jauh ke ujung negeri tanpa tepi tempat awal mula pelangi.

warna-warna menjadi satu dengan ragu. tinggalkan satu yang tak lagi utuh.

"bawalah setengahku. itu rumahmu. itu tanda bacamu," bisikmu mesra pada dedaunan beku yang berserakan di halaman lembar ambigu.

tajam angin terbangkan dedaunan beku. lunturkan warna pada kelopakmu. dan semenjak itu, kau, melati, tak lagi putih. tak lagi merona meski senja merupa di gerimis hujan hari minggu.

genanganmu mengering dan berdebu dalam lipatan kelopak waktu. rintikmu enggan menyusuri sudut-sudut yang selalu hening tanpa warna tanpa luka.

"aku menantimu. bawalah kembali warna perdu. rangkai pada aku," geliatmu pada pagi kesekian kali kau menunduk dan berkesah di bulir embun sambil menantap rindu dari pinggir waktu.

masih kau simpan rindu itu. di sebaris kalimat tak selesai. dulu, saat ini, dan mungkin nanti ditangis …

Sajak Pertama untuk Melati

pada rumpun kata kudapati ia. melati yang terluka. kelopaknya berbelah sebelah. kupanggil ia, "Melati," karena indahnya tak terperi. karena tiap kelopaknya penuh dengan mimpi.

"aku ingin terbang ke ujung lengkung pelangi," isaknya pada kelebat waktu yang bergerak maju dan tinggalkan rindu di tiap ujung persinggahan.

duabelas gurindam ia ciptakan dalam perjalanan ke ujung lengkung pelangi. satu gurindam untuk tiap kelopak yang terkelupas oleh hembus kehampaan.

"mengertilah atman sebelum terpejam!" seruku dari kejauhan.

ah, ingin kubuang segala puisi dan cerita cinta serta coret gambar yang tak perlu itu.

(26 Maret 2010)

Dalam Ruang ini

dalam ruang ini kita berpapasan pada resolusi tanpa pertemuan. tiada kata hanya aksara. relasi terjaga pada rinduan rupa. ketika cerita menjadi lara. titik-titik kata adalah airmata. garis lengkung merupa tawa. kita bersatu pada rindu pada hitungan yang berlalu. kau mencari makna aku melupakan gelora. lalu. komentar ketiga jadi titik awal dunia. dalam ruang ini kita adalah tiada.

(20 maret 2010)

Kala Hujan

Rintik. Bau tanah yang basah.
Bibirmu pecah-pecah. Telingaku rengkah.

Biola itu. Mimpimu.
Melengking. Jarimu meleset 2 oktaf.

Kamu. Mimpiku.
Gitarku sumbang. Senar No 6 tak ada.

Hujan. Jalan berkubang.
Pengojek payung. Seribu sekali jalan.

Bajuku kuyup. Kaus kaki meletup.
Sepatu baru. Hilang di masjid samping gardu.

Tiba-tiba saja aku jadi benci suara biola.

(29 Januari 2010)

Terbanglah, Kupu-kupu

karena engkau ulat. kau hanya bisa merayap. dalam pelan berharap. menjadi kupu-kupu yang menggeliat. tapi tak usah ragu. raih saja mimpi-mimpi itu. karena aku akan selalu menjagamu. dalam takzim. dari balik daun ranting angin siang malam yang bergeming.

kupu-kupu, terbanglah

karena engkau kupu-kupu. kau akan terbang berderap. dengan keinginan mengepak sayap. terbanglah jauh. reguk semua mimpi itu. karena aku akan selalu menjagamu. dalam geming. dari balik daun ranting angin siang malam yang bertakzim.

(23 Desember 2009)

Monolog Kopi yang Kemanisan (3)

9.
lagi dan lagi kubuat kopi. dua cangkir kini tersaji. satu takaran satu ukuran. dua sendok makan penuh kopi. satu seperempat gula putih. pahit. kental. dan berwarna pekat hitam. lagi dan lagi kubuat kopi. dua cangkir kini menari dalam aroma. menggelora. satu untukku yang saat ini mengangkat cangkir dengan tangan bergetar. dan satu untukmu, yang sekarang belum kembali dari keterasingan.

10.
"aku rindu kopi pahit," bisikmu ketika akhirnya engkau kembali. "dan, aku pun rindu padamu yang selalu membuat kopi pahit itu," tambahmu. aku terdiam dalam getar-getar yang melagukan rasa melayang.

"aku hanya mengerti rasa pahit," jawabku. engkau menghirup kopi itu dalam suasana yang damai. suasana yang juga hanya aku punya dan selamanya. "nikmat mana? pahit atau manis?" tanyaku ketika hirupan terakhirmu menandaskan secangkir penuh kopi lampung yang mengental dalam cangkir yang berbayang.

11.
ada kopi yang mengental saat engkau mengeluh tentang hidup yang banal. p…

Surat Kedelapanbelas

Minggu, 10 Januari 2010
Untuk kekasihku, yang hampir saja menjadi sisa-sisa keraguan

Berteman setengah batang keharuan, seperempat gelas kecemasan, dan sesendok teh awing-awang. Aku bernyanyi di depan kamarku. Suaraku sumbang, pilek ini belum terlalu berkurang. Pun, dengan bunyi gitarku, tak kalah sumbang. Senar enamnya mati. Senar duanya dari kawat. Senar tiga tidak ada. Sebuah harmoni akan cinta kasih dari Iwan Fals -salah seorang musisi kebangganku, “Kembang Pete” kulantunkan patah-patah.

Kuberikan padamu/Setangkai kembang pete/Tanda cinta abadi namun kere
Buang jauh-jauh/Impian mulukmu/Karena kita tak boleh bikin uang palsu

Kasih sayangku ini miskin. Hanya niat baik yang aku punya, yang lagi-lagi aku katakan. Ualng dan berulang. Bukan apa-apa, karena toh, kita memang miskin, meski ada beberapa lembar uang berwarna merah di dompetku.

Miskin. Seperti negeri ini. Miskin kepercayaan. Miskin keadilan. Miskin kompromi. Miskin segala-galanya. Saking miskinnya, para pejabat, melulu minta akomod…