Langsung ke konten utama

Monolog Kopi yang Kemanisan (4)

12.
Hmm, kopi hitam ini nikmat sekali. Kental. Dan, tidak seberapa manis. Memang segini seharusnya takaran kopi itu. Cukup dua sendok makan kopi dan satu seperempat gula. Kemudian diseduh dengan air panas mendidih pada cangkir berukuran sedang. Tidak usah penuh-penuh, cukup tigaperempat dari cangkir tersebut. Lalu diaduk dengan sendok menyentuh dasar gelas atau cangkir. Biar kopinya melebur sempurna dengan air panas.

Tak hanya itu, cara menikmatinya pun tidak sembarangan. Tiup sedikit, agar tidak terlalu panas ketika menyentuh bibir lalu tempelkan, ingat, hanya ujung bibir saja yang menempel. Lalu seruput dengan semangat, sampai menimbulkan bunyi yang khas, “Sruuuuupphhhtt!!”.

13.
Hmm, bagiku, minum kopi, terlebih kopi hitam bubuk, bisa menimbulkan ekstase, ya seperti ibadah mungkin. Ada kenikmatan tersendiri ketika cairan kafein tersebut mengalir melewati lidah kemudian masuk ke tenggorokan dan berakhir di perut. Ada imaji yang tercipta saat uap kopi itu ikut masuk dan menyesap ke dalam otak belakang.

Meski banyak yang bilang kafein itu tidak bagus untuk kesehatan, bahkan berpotensi mengakibatkan kematian, tapi aku tidak peduli. Toh, manusia memang akan mati. Satu-satunya alasan yang bisa kuterima -minum kopi banyak-banyak bisa mati, mungkin jika kita meminumnya sambil menyebrang di jalan yang penuh kendaraan.

14.
Ah, kopi. Betapa hebat akibat yang ditimbulkannya. Begitu banyak cerita yang tercipta dengan kopi sebagai teman. Cerita ini pun berawal dari kopi. Akan ku kisahkan kepada kalian. Mungkin agak tersendat ku bercerita nanti. Maklumlah, sambil minum kopi soalnya. Baik, segera seduh kopi kalian, mari berkumpul agak mendekat padaku. Karena kisah ini, akan lebih syahdu bila diceritakan dengan kisikan.

15.
Ah, ternyata tiada ada lagi ceritera yang terdedah karena kopi ini. Kubuang kopi yang masih tersisa. Kutangkupkan cangkirnya. Dan aku pun berlalu.

(28 April 2010)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat untuk calon menantu

Wahai kekasih anakku
kau boleh panggil aku apa saja
mama, bunda, atau ibu
karena sebentar lagi kau pun akan jadi buah hatiku

Ibu bahagia
mendengar kabar darinya
kau memilih dia
dampingimu selamanya

Sebelum kalian membuka pintu baru
dan kami memberi restu
izinkan ibu
melantunkan sesuatu

Calon menantu, sembilan bulan ibu mengandungnya
diazani ia oleh si bapak
genap delapan bulan dilangkahkan kakinya
satu tahun dua bulan ia merengek minta salak

Ia memang bukan lelaki bijaksana
kerap tingkah dan lakunya membuat kami gelengkan kepala
tapi, calon menantuku, yakinlah
ia adalah orang yang pertama tiba
dan memapahmu saat kau terjatuh dari tangga

Sungguh keras kepala ia
bahkan keluarga di sini suka pusing dibuatnya
tetapi ia akan berada di garis muka
meski akhirnya ia mendapat cemoohan dari yang dihadapinya

Belikanlah pakaian yang pantas untuk ia
sekali saja
menjelang hari raya
karena ia merasa cukup dengan baju koko dan sarung biru kotak-kotaknya

Mengajilah bersamanya
ia bukan tak kuat agama
ibu menyekolahkan ia Madrasah Di…

Membaca Ending Video Klip ‘Akad’ Payung Teduh

Mungkin ini sangat terlambat buat menulis soal video klip terbaru dari Payung Teduh, Akad. Sudah lebih dari dua bulan sejak video klip itu diunggah di YouTube. Tapi biarlah, karena memang perspektif ini baru saya dapatkan setelah menonton video klipnya.
Baru nonton? Iya, saya baru nonton video klipnya, meski sudah mendengar lagunya pada Juli lalu. Kenapa baru nonton? Alasannya sih simpel, lagu-lagu Payung Teduh jauh lebih enak didengar pakai headphone sambil tidur-tiduran, jadi video klipnya pun tidak terlalu penting.
Beberapa hari lalu, sambil nemenin Aleesya main, saya iseng googling soal ‘Akad’ ini. Hasil pencarian menampilkan berita mengenai video klip lagu ini di-blur, ditarik kembali, diunggah yang baru, dan ending yang menyedihkan.
Lantaran penasaran, saya buka YouTube dan menontonnya. Tak perlu bicara banyak mengenai jalan cerita video klip itu; seorang lelaki paruh baya yang menjadi supir taksi online, penumpang yang beragam: sepasang kekasih, satu keluarga kecil, perempuan yan…

Sajak Bujang Tak Punya Uang

Sabtu ini terlihat sendu
ketika kusadari betapa tipis ini saku
dompet biru merajuk malu
saat kusapa, "Aku kangen kamu,"

Cicilan motor
ponsel canggih dari kantor
"Dor!"
lemas aku diteror

Ingin aku bertualang
tapi bisakah bensin dibayar dengan kata: sayang?
sementara perut sudah bergoyang
karena belum diisi sejak siang

Oh hari Sabtu
tangki bensin berdebu
duhai malam Minggu
meringkuk memegang erat perutku

(15 Januari 2010)