Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Rabu, 28 April 2010

Monolog Kopi yang Kemanisan (4)

12.
Hmm, kopi hitam ini nikmat sekali. Kental. Dan, tidak seberapa manis. Memang segini seharusnya takaran kopi itu. Cukup dua sendok makan kopi dan satu seperempat gula. Kemudian diseduh dengan air panas mendidih pada cangkir berukuran sedang. Tidak usah penuh-penuh, cukup tigaperempat dari cangkir tersebut. Lalu diaduk dengan sendok menyentuh dasar gelas atau cangkir. Biar kopinya melebur sempurna dengan air panas.

Tak hanya itu, cara menikmatinya pun tidak sembarangan. Tiup sedikit, agar tidak terlalu panas ketika menyentuh bibir lalu tempelkan, ingat, hanya ujung bibir saja yang menempel. Lalu seruput dengan semangat, sampai menimbulkan bunyi yang khas, “Sruuuuupphhhtt!!”.

13.
Hmm, bagiku, minum kopi, terlebih kopi hitam bubuk, bisa menimbulkan ekstase, ya seperti ibadah mungkin. Ada kenikmatan tersendiri ketika cairan kafein tersebut mengalir melewati lidah kemudian masuk ke tenggorokan dan berakhir di perut. Ada imaji yang tercipta saat uap kopi itu ikut masuk dan menyesap ke dalam otak belakang.

Meski banyak yang bilang kafein itu tidak bagus untuk kesehatan, bahkan berpotensi mengakibatkan kematian, tapi aku tidak peduli. Toh, manusia memang akan mati. Satu-satunya alasan yang bisa kuterima -minum kopi banyak-banyak bisa mati, mungkin jika kita meminumnya sambil menyebrang di jalan yang penuh kendaraan.

14.
Ah, kopi. Betapa hebat akibat yang ditimbulkannya. Begitu banyak cerita yang tercipta dengan kopi sebagai teman. Cerita ini pun berawal dari kopi. Akan ku kisahkan kepada kalian. Mungkin agak tersendat ku bercerita nanti. Maklumlah, sambil minum kopi soalnya. Baik, segera seduh kopi kalian, mari berkumpul agak mendekat padaku. Karena kisah ini, akan lebih syahdu bila diceritakan dengan kisikan.

15.
Ah, ternyata tiada ada lagi ceritera yang terdedah karena kopi ini. Kubuang kopi yang masih tersisa. Kutangkupkan cangkirnya. Dan aku pun berlalu.

(28 April 2010)

0 komentar:

Posting Komentar