Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2009

Surat Ketujuhbelas

Rabu, 26 November 2009
Teruntuk kau, yang kian terpatri dalam hati,

Aku sudah membaca semua mimpi-mimpi kamu yang tertera pada daftar yang kau tulis beberapa waktu lalu. Aku tahu, itu hanya sebagian mimpi-mimpi yang baru sempat kamu tuangkan menjadi rangkaian aksara. Aku yakin, ada banyak lagi mimpi-mimpi yang masih terendapkan. Berulang-ulang aku baca. Semakin sering kubaca, semakin dalam aku mengenalmu. Semakin dalam aku mengenalmu, semakin hebat perasaan kagum ini (meski ada beberapa mimpimu yang membuatku harus tersenyum meringis menahan sedikit ‘sakit’).

Kau tahu, aku sangat menyukai mimpi kamu no 15, 16, dan 17. “Aku ingin menyekolahkan adik bungsuku ke jenjang pendidikan yang tinggi,” katamu. Mimpi itu yang paling mulia ku rasa. Bertambah lagi rasa kagum ini setelah membaca mimpimu yang satu itu. Betapa cintanya kau kepada adikmu tersebut. Dan memang, sebaiknya hal tersebutlah yang harus kita lakukan untuk menjaga orang yang kita cintai dari pengaruh dunia yang makin berengsek ini…

Awan, Embun, dan Gerak

hanya awan yang bergerak tanpa derak,
dan mata ini tak juga terpejam

dan lalu datang embun,
pipinya merona membawa dengkur lembutmu ke dalam angan

memberi ketenangan, sedikit,
hingga pelan-pelan aku terpejam, dan karam

(bandar lampung, 23 November 2009)

Surat Keenambelas

Minggu, 15 November 2009
Untuk Perempuan dari Masa Depan-ku

Wahai kau yang selalu mengerling dari balik keinginan

Aku menulis surat ini ketika embun turun dan menjadi titik-titik air di ujung pengeras suara pada surau di desa tetangga. Sunyi sekali pagi ini. Hanya segelas kopi hitam kental dan tidak seberapa manis serta detik jarum jam dinding yang menjadi teman. Tapi tak apa, aku sudah terbiasa.

Surat kali ini tertulis dengan keraguan ketika kenyataan terasa memabukan. Ketika akhirnya kau datang dan mewujud di hadapanku. Tetapi, aku ragu. Apakah itu kau atau bukan. Pun demikian, tetap kusambut tanganmu yang sedikit pias kedinginan. Sedangkan keraguan, ah, toh aku bisa lebih tidak peduli.

Aroma, aura, dan mimpi-mimpi perempuan bersayap putih di bahunya itu sangat mirip dirimu. Terlebih ketika ia mengungkapkan tentang bentuk dan suasana dari rumah penuh cinta yang diidamkannya kelak jika ia berkeluarga. Membuatku semakin yakin jika perempuan itu adalah kau yang selama ini hanya menari-nari …