Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2010

Rajam Rejam Resam

kau tertatih dalam luka. rajam rindumu sendiri yang melecutnya. terkapar. lelah. tapi tak punya asa tuk berulah.

sebutlah kau orang yang terluka. pun demikian dengan aku. luka ku menganga. banal. brutal. serap jiwa. serat jiwa. sarap jiwa.

"kalian orang-orang yang terluka. menyatulah pada gemintang dan kegetiran!" koor lembaran-lembaran kertas yang tersunyi dalam padang ilalang.

dibalik percakapan-percakapan tengah malam itu. kita saling menangisi pemberlajaran akan kepasrahan pada jiwa. datang mengisi presensi. silih berganti dengan tuntutan dan geram harapan.

jangan ragukan. takdir itu tlah terbawa kita pada alurnya. dan akan terikuti sampai mana muaranya. dalam batas yang mencekikkan doa. akan harap untuk bisa melebur bersama.

(30 Maret 2010)

Tak Lagi Merona

"berjanjilah! untuk tetap melantunkanku!" lenguhmu lemah pada warna-warna yang berjingkrakan dengan gelora jauh ke ujung negeri tanpa tepi tempat awal mula pelangi.

warna-warna menjadi satu dengan ragu. tinggalkan satu yang tak lagi utuh.

"bawalah setengahku. itu rumahmu. itu tanda bacamu," bisikmu mesra pada dedaunan beku yang berserakan di halaman lembar ambigu.

tajam angin terbangkan dedaunan beku. lunturkan warna pada kelopakmu. dan semenjak itu, kau, melati, tak lagi putih. tak lagi merona meski senja merupa di gerimis hujan hari minggu.

genanganmu mengering dan berdebu dalam lipatan kelopak waktu. rintikmu enggan menyusuri sudut-sudut yang selalu hening tanpa warna tanpa luka.

"aku menantimu. bawalah kembali warna perdu. rangkai pada aku," geliatmu pada pagi kesekian kali kau menunduk dan berkesah di bulir embun sambil menantap rindu dari pinggir waktu.

masih kau simpan rindu itu. di sebaris kalimat tak selesai. dulu, saat ini, dan mungkin nanti ditangis …

Sajak Pertama untuk Melati

pada rumpun kata kudapati ia. melati yang terluka. kelopaknya berbelah sebelah. kupanggil ia, "Melati," karena indahnya tak terperi. karena tiap kelopaknya penuh dengan mimpi.

"aku ingin terbang ke ujung lengkung pelangi," isaknya pada kelebat waktu yang bergerak maju dan tinggalkan rindu di tiap ujung persinggahan.

duabelas gurindam ia ciptakan dalam perjalanan ke ujung lengkung pelangi. satu gurindam untuk tiap kelopak yang terkelupas oleh hembus kehampaan.

"mengertilah atman sebelum terpejam!" seruku dari kejauhan.

ah, ingin kubuang segala puisi dan cerita cinta serta coret gambar yang tak perlu itu.

(26 Maret 2010)

Dalam Ruang ini

dalam ruang ini kita berpapasan pada resolusi tanpa pertemuan. tiada kata hanya aksara. relasi terjaga pada rinduan rupa. ketika cerita menjadi lara. titik-titik kata adalah airmata. garis lengkung merupa tawa. kita bersatu pada rindu pada hitungan yang berlalu. kau mencari makna aku melupakan gelora. lalu. komentar ketiga jadi titik awal dunia. dalam ruang ini kita adalah tiada.

(20 maret 2010)

Kala Hujan

Rintik. Bau tanah yang basah.
Bibirmu pecah-pecah. Telingaku rengkah.

Biola itu. Mimpimu.
Melengking. Jarimu meleset 2 oktaf.

Kamu. Mimpiku.
Gitarku sumbang. Senar No 6 tak ada.

Hujan. Jalan berkubang.
Pengojek payung. Seribu sekali jalan.

Bajuku kuyup. Kaus kaki meletup.
Sepatu baru. Hilang di masjid samping gardu.

Tiba-tiba saja aku jadi benci suara biola.

(29 Januari 2010)

Terbanglah, Kupu-kupu

karena engkau ulat. kau hanya bisa merayap. dalam pelan berharap. menjadi kupu-kupu yang menggeliat. tapi tak usah ragu. raih saja mimpi-mimpi itu. karena aku akan selalu menjagamu. dalam takzim. dari balik daun ranting angin siang malam yang bergeming.

kupu-kupu, terbanglah

karena engkau kupu-kupu. kau akan terbang berderap. dengan keinginan mengepak sayap. terbanglah jauh. reguk semua mimpi itu. karena aku akan selalu menjagamu. dalam geming. dari balik daun ranting angin siang malam yang bertakzim.

(23 Desember 2009)

Monolog Kopi yang Kemanisan (3)

9.
lagi dan lagi kubuat kopi. dua cangkir kini tersaji. satu takaran satu ukuran. dua sendok makan penuh kopi. satu seperempat gula putih. pahit. kental. dan berwarna pekat hitam. lagi dan lagi kubuat kopi. dua cangkir kini menari dalam aroma. menggelora. satu untukku yang saat ini mengangkat cangkir dengan tangan bergetar. dan satu untukmu, yang sekarang belum kembali dari keterasingan.

10.
"aku rindu kopi pahit," bisikmu ketika akhirnya engkau kembali. "dan, aku pun rindu padamu yang selalu membuat kopi pahit itu," tambahmu. aku terdiam dalam getar-getar yang melagukan rasa melayang.

"aku hanya mengerti rasa pahit," jawabku. engkau menghirup kopi itu dalam suasana yang damai. suasana yang juga hanya aku punya dan selamanya. "nikmat mana? pahit atau manis?" tanyaku ketika hirupan terakhirmu menandaskan secangkir penuh kopi lampung yang mengental dalam cangkir yang berbayang.

11.
ada kopi yang mengental saat engkau mengeluh tentang hidup yang banal. p…