Langsung ke konten utama

Tak Lagi Merona

"berjanjilah! untuk tetap melantunkanku!" lenguhmu lemah pada warna-warna yang berjingkrakan dengan gelora jauh ke ujung negeri tanpa tepi tempat awal mula pelangi.

warna-warna menjadi satu dengan ragu. tinggalkan satu yang tak lagi utuh.

"bawalah setengahku. itu rumahmu. itu tanda bacamu," bisikmu mesra pada dedaunan beku yang berserakan di halaman lembar ambigu.

tajam angin terbangkan dedaunan beku. lunturkan warna pada kelopakmu. dan semenjak itu, kau, melati, tak lagi putih. tak lagi merona meski senja merupa di gerimis hujan hari minggu.

genanganmu mengering dan berdebu dalam lipatan kelopak waktu. rintikmu enggan menyusuri sudut-sudut yang selalu hening tanpa warna tanpa luka.

"aku menantimu. bawalah kembali warna perdu. rangkai pada aku," geliatmu pada pagi kesekian kali kau menunduk dan berkesah di bulir embun sambil menantap rindu dari pinggir waktu.

masih kau simpan rindu itu. di sebaris kalimat tak selesai. dulu, saat ini, dan mungkin nanti ditangis tanah yang tak lagi merah ini. ada ceceran abjad yang tiada sempat kau pungut. pada bangku kayu. pada sisa-sisa senyummu. yang luput dari tatapan lembut rembulan di balik sisa kelopak yang tak lagi berwarna.

ronamu menguap. bersamaan dengan kerinduan.

(30 Maret 2010)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat untuk calon menantu

Wahai kekasih anakku
kau boleh panggil aku apa saja
mama, bunda, atau ibu
karena sebentar lagi kau pun akan jadi buah hatiku

Ibu bahagia
mendengar kabar darinya
kau memilih dia
dampingimu selamanya

Sebelum kalian membuka pintu baru
dan kami memberi restu
izinkan ibu
melantunkan sesuatu

Calon menantu, sembilan bulan ibu mengandungnya
diazani ia oleh si bapak
genap delapan bulan dilangkahkan kakinya
satu tahun dua bulan ia merengek minta salak

Ia memang bukan lelaki bijaksana
kerap tingkah dan lakunya membuat kami gelengkan kepala
tapi, calon menantuku, yakinlah
ia adalah orang yang pertama tiba
dan memapahmu saat kau terjatuh dari tangga

Sungguh keras kepala ia
bahkan keluarga di sini suka pusing dibuatnya
tetapi ia akan berada di garis muka
meski akhirnya ia mendapat cemoohan dari yang dihadapinya

Belikanlah pakaian yang pantas untuk ia
sekali saja
menjelang hari raya
karena ia merasa cukup dengan baju koko dan sarung biru kotak-kotaknya

Mengajilah bersamanya
ia bukan tak kuat agama
ibu menyekolahkan ia Madrasah Di…

Membaca Ending Video Klip ‘Akad’ Payung Teduh

Mungkin ini sangat terlambat buat menulis soal video klip terbaru dari Payung Teduh, Akad. Sudah lebih dari dua bulan sejak video klip itu diunggah di YouTube. Tapi biarlah, karena memang perspektif ini baru saya dapatkan setelah menonton video klipnya.
Baru nonton? Iya, saya baru nonton video klipnya, meski sudah mendengar lagunya pada Juli lalu. Kenapa baru nonton? Alasannya sih simpel, lagu-lagu Payung Teduh jauh lebih enak didengar pakai headphone sambil tidur-tiduran, jadi video klipnya pun tidak terlalu penting.
Beberapa hari lalu, sambil nemenin Aleesya main, saya iseng googling soal ‘Akad’ ini. Hasil pencarian menampilkan berita mengenai video klip lagu ini di-blur, ditarik kembali, diunggah yang baru, dan ending yang menyedihkan.
Lantaran penasaran, saya buka YouTube dan menontonnya. Tak perlu bicara banyak mengenai jalan cerita video klip itu; seorang lelaki paruh baya yang menjadi supir taksi online, penumpang yang beragam: sepasang kekasih, satu keluarga kecil, perempuan yan…

Sajak Bujang Tak Punya Uang

Sabtu ini terlihat sendu
ketika kusadari betapa tipis ini saku
dompet biru merajuk malu
saat kusapa, "Aku kangen kamu,"

Cicilan motor
ponsel canggih dari kantor
"Dor!"
lemas aku diteror

Ingin aku bertualang
tapi bisakah bensin dibayar dengan kata: sayang?
sementara perut sudah bergoyang
karena belum diisi sejak siang

Oh hari Sabtu
tangki bensin berdebu
duhai malam Minggu
meringkuk memegang erat perutku

(15 Januari 2010)