Langsung ke konten utama

Hujan dan Kita

Angin:

puisi ini berawal dari rasa rindu
yang meluruh pada hari yang bergemuruh

titik-titik air lalu jatuh
menyentuh jejak-jejak langkah kecil itu

kau
dan aku

dua hati yang gamang
berpelukan dalam hati yang bergenggaman

maka jadilah hujan
pada senja yang temaram

rumput-rumput kering lalu basah
senyum mereka merekah

seperti tawa kita
diantara buaian dua roda

dan kita menjadi hujan
di dalam kegetiran bagi masing-masing kita

Air:

Kau
adalah lembaran angin yang berhembus
Aku
Adalah tetesan air yang bersatu menjadi samudra yang dalam

Saat kau menguapkan tetesan air
membawanya bersama menuju langit
dan mengumpulkannya kembali
kau jadikanku cumulonimbus

Kita bersatu
dalam desau yang berubah menjadi gemuruh
pada gelora yang menjadi kilatan cahaya
dari angkasa
lalu baurkan segala menjadi rintik kembali

Maka begitulah alasannya
mengapa kita menjadi hujan

(29 Mei 2010)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat untuk calon menantu

Wahai kekasih anakku
kau boleh panggil aku apa saja
mama, bunda, atau ibu
karena sebentar lagi kau pun akan jadi buah hatiku

Ibu bahagia
mendengar kabar darinya
kau memilih dia
dampingimu selamanya

Sebelum kalian membuka pintu baru
dan kami memberi restu
izinkan ibu
melantunkan sesuatu

Calon menantu, sembilan bulan ibu mengandungnya
diazani ia oleh si bapak
genap delapan bulan dilangkahkan kakinya
satu tahun dua bulan ia merengek minta salak

Ia memang bukan lelaki bijaksana
kerap tingkah dan lakunya membuat kami gelengkan kepala
tapi, calon menantuku, yakinlah
ia adalah orang yang pertama tiba
dan memapahmu saat kau terjatuh dari tangga

Sungguh keras kepala ia
bahkan keluarga di sini suka pusing dibuatnya
tetapi ia akan berada di garis muka
meski akhirnya ia mendapat cemoohan dari yang dihadapinya

Belikanlah pakaian yang pantas untuk ia
sekali saja
menjelang hari raya
karena ia merasa cukup dengan baju koko dan sarung biru kotak-kotaknya

Mengajilah bersamanya
ia bukan tak kuat agama
ibu menyekolahkan ia Madrasah Di…

Membaca Ending Video Klip ‘Akad’ Payung Teduh

Mungkin ini sangat terlambat buat menulis soal video klip terbaru dari Payung Teduh, Akad. Sudah lebih dari dua bulan sejak video klip itu diunggah di YouTube. Tapi biarlah, karena memang perspektif ini baru saya dapatkan setelah menonton video klipnya.
Baru nonton? Iya, saya baru nonton video klipnya, meski sudah mendengar lagunya pada Juli lalu. Kenapa baru nonton? Alasannya sih simpel, lagu-lagu Payung Teduh jauh lebih enak didengar pakai headphone sambil tidur-tiduran, jadi video klipnya pun tidak terlalu penting.
Beberapa hari lalu, sambil nemenin Aleesya main, saya iseng googling soal ‘Akad’ ini. Hasil pencarian menampilkan berita mengenai video klip lagu ini di-blur, ditarik kembali, diunggah yang baru, dan ending yang menyedihkan.
Lantaran penasaran, saya buka YouTube dan menontonnya. Tak perlu bicara banyak mengenai jalan cerita video klip itu; seorang lelaki paruh baya yang menjadi supir taksi online, penumpang yang beragam: sepasang kekasih, satu keluarga kecil, perempuan yan…

Sajak Pagi di Jalan Lintas yang Sepi

Jika aku ucapkan selamat pagi
kepadamu pagi ini
barangkali jalan lintas masih sepi
dan pagi belum kembali
debu-debu mendengkur berlagu
nyenyak di atas batu

Bilamana ku ucapkan selamat pagi
kepadamu pagi ini
barangkali satu dua embun mulai menyapa
tertawa kecil sedikit mesra
dan menetes pada sisi bantal
dimana kepalamu terkulai
tenang dan damai

Kalau aku ucapkan selamat pagi
kepadamu pagi ini
barangkali secangkir kopi
dua potong roti
menjadi sempurna
iringi senyummu menyapa dunia

Dan setelah aku ucapkan selamat pagi
kepadamu pagi ini
barangkali aku kembali  tertidur
melempar alarm ke pintu dapur
memimpikan binar matamu
sabtu malam lalu

"Selamat pagi, semoga hari ini lebih berarti"