Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Selasa, 25 Mei 2010

Pemuja Matahari

Sebetulnya aku tidak menyukai senja. Bisa dibilang benci. Pada warnanya yang tidak jelas. Merah bukan jingga bukan. Nuansa gelap, selalu itu yang aku tangkap. Sebuah intro menyeramkan penghantar malam menggantikan siang.

Karena aku adalah pemuja matahari, aku tak pernah mau siang berganti. Matahari yang setia memberiku cahaya. Mencubit pipiku di pagi hari dengan sinarnya, membuat mataku kembali terbuka. Tersenyum geli melihat bunga-bunga mekar karena sentuhan sinarnya dengan tersipu malu. Matahari memberiku hidup kesekian kalinya setelah aku mati sesaat di malam yang gelap.

Karena aku adalah pemuja matahari, maka aku membenci senja yang datang memaksa. Menyembunyikan sinar pelan-pelan ke balik ketiaknya. Sangat menyebalkan saat ia kulihat tengah memereteli kelopak matahari satu-satu sambil tertawa diiringi tatap mencurigakan sang bulan yang mengintip dari sudut cakrawala. Apa mereka bersekongkol? Aku rasa iya. Senja lebih identik dengan malam, dan malam adalah kubangan sang bulan.

(24 Mei 2010)

0 komentar:

Posting Komentar