Langsung ke konten utama

"Logisnya" Cinta

Hari masih terlalu pagi. Azan subuh baru saja berhenti. Dan warga sekitar terburu-buru menuju masjid agar tak tertinggal shalat berjamaah. Di luar, embun pun masih enggan menetes dari ujung dedaunan, meski ngengat, jangkrik, dan serangga malam lainnya telah menarik selimut menutupi kepala mereka sambil menunggu malam berikutnya. Dan saya, pun masih bergelut dengan rasa tidak ngantuk seperti biasanya.

Hari masih terlalu pagi, saat sebuah teori –atau lebih tepatnya, pemahaman baru— mendadak berkelebat lalu mengendap di benak saya. Sebuah percakapan singkat di ujung waktu imsak menjadi pemicunya.

“Maaf kalau aku tidak bisa seperti perempuan lainnya, yang bisa dikunjungi kapan saja, yang punya waktu luang banyak, yang bisa diajak bercinta. Sayang, maafkan aku, dengan segala keterbatasanku,”

Pesan itu lalu berkembang menjadi pertanyaan-pertanyaan yang terlontar begitu saja. “Apakah ada perbedaan antara mencintai dan dicintai?”. “Jika ada, apakah akan terlihat dengan nyata?”

Lalu seperti ini teori itu memberikan jawabannya: 1) Mencintai: Memberikan kasih sayang sedemikian rupa kepada seseorang atau sesuatu atau zat lainnya. 2) Dicintai: Menerima kasih sayang sedemikian rupa dari seseorang atau sesuatu atau zat lainnya.

Pemaparan jawaban yang sederhana itu akan dengan sederhana pula menjelaskan dua pertanyaan yang terpicu dari pesan singkat tersebut.

Mencintai dalam artian memberikan kasih sayang dapat berkonotasi dengan dua buah suku kata, yakni “tanpa syarat”, yang kemudian akan memberikan efek rasa “kompromi” terhadap keadaan si penerima kasih sayang tersebut. Alhasil, secara kasar berarti, plus-minus si penerima sebisa mungkin tidak akan terlalu memberi pengaruh kepada si pemberi. Legowo, nrimo, ikhlas, atau istilah lainnya menyebutkan.

Sedangkan dicintai --dalam artian menerima kasih sayang, menurut saya, lebih bermakna negatif. Sebuah kata yang penuh rasa negasi. Kemudian dengan jelas (masih menurut saya) akan memunculkan efek berantai yang berbanding seratus delapanpuluh derajat dengan "mencintai".

Dicintai berarti diberi kasih sayang. Sudah tentu, si penerima berhak untuk menentukan poin-poin agar si pemberi mau apa yang diberinya diterima oleh si penerima. Sangat tidak logis jika, misanya kita berkata seperti, "Aku mencintaimu, oleh karena itu, kamu harus bla-bla-bla,". Lebih logis jika seperti, "Aku akan menerima cintamu, untuk itu, kau harus ini, harus itu, harus bla-bla-bla,".

Ada syarat untuk bisa diterima. Seperti halnya masuk perguruan tinggi, harus ikut les, harus belajar, punya uang, agar bisa diterima. Logis kan?

Namun, apanya yang logis dari yang namanya "cinta" itu? Bahkan "cinta" itu sendiri adalah sesuatu yang abstrak. Jika dibilang logis maka ia bisa menjadi tidak logis, begitu juga kebalikannya.

Tetapi, ada satu hal yang jelas. "Mencintai" dan "Dicintai" itu sangat berbeda konteksnya. Dan sangat jelas pula, dibutuhkan adanya suatu keseimbangan dari keduanya. Terlalu mencintai tidak baik juga, karena sebagai manusia, kita tidak akan bisa selalu tulus dalam mencintai. Hanya para nabi yang bisa seperti itu.

Dan selalu berharap untuk dicintai juga sama tidak baiknya. Kita, sebagai manusia, mempunyai hati nurani untuk bisa berbuat tulus. Dan dengan selalu berharap dicintai akan menimbulkan kesan bahwa perasaan egois itu sangat kental di diri kita. Hanya iblis yang selalu egois.

Tinggal pilih yang mana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat untuk calon menantu

Wahai kekasih anakku
kau boleh panggil aku apa saja
mama, bunda, atau ibu
karena sebentar lagi kau pun akan jadi buah hatiku

Ibu bahagia
mendengar kabar darinya
kau memilih dia
dampingimu selamanya

Sebelum kalian membuka pintu baru
dan kami memberi restu
izinkan ibu
melantunkan sesuatu

Calon menantu, sembilan bulan ibu mengandungnya
diazani ia oleh si bapak
genap delapan bulan dilangkahkan kakinya
satu tahun dua bulan ia merengek minta salak

Ia memang bukan lelaki bijaksana
kerap tingkah dan lakunya membuat kami gelengkan kepala
tapi, calon menantuku, yakinlah
ia adalah orang yang pertama tiba
dan memapahmu saat kau terjatuh dari tangga

Sungguh keras kepala ia
bahkan keluarga di sini suka pusing dibuatnya
tetapi ia akan berada di garis muka
meski akhirnya ia mendapat cemoohan dari yang dihadapinya

Belikanlah pakaian yang pantas untuk ia
sekali saja
menjelang hari raya
karena ia merasa cukup dengan baju koko dan sarung biru kotak-kotaknya

Mengajilah bersamanya
ia bukan tak kuat agama
ibu menyekolahkan ia Madrasah Di…

Membaca Ending Video Klip ‘Akad’ Payung Teduh

Mungkin ini sangat terlambat buat menulis soal video klip terbaru dari Payung Teduh, Akad. Sudah lebih dari dua bulan sejak video klip itu diunggah di YouTube. Tapi biarlah, karena memang perspektif ini baru saya dapatkan setelah menonton video klipnya.
Baru nonton? Iya, saya baru nonton video klipnya, meski sudah mendengar lagunya pada Juli lalu. Kenapa baru nonton? Alasannya sih simpel, lagu-lagu Payung Teduh jauh lebih enak didengar pakai headphone sambil tidur-tiduran, jadi video klipnya pun tidak terlalu penting.
Beberapa hari lalu, sambil nemenin Aleesya main, saya iseng googling soal ‘Akad’ ini. Hasil pencarian menampilkan berita mengenai video klip lagu ini di-blur, ditarik kembali, diunggah yang baru, dan ending yang menyedihkan.
Lantaran penasaran, saya buka YouTube dan menontonnya. Tak perlu bicara banyak mengenai jalan cerita video klip itu; seorang lelaki paruh baya yang menjadi supir taksi online, penumpang yang beragam: sepasang kekasih, satu keluarga kecil, perempuan yan…

Sajak Bujang Tak Punya Uang

Sabtu ini terlihat sendu
ketika kusadari betapa tipis ini saku
dompet biru merajuk malu
saat kusapa, "Aku kangen kamu,"

Cicilan motor
ponsel canggih dari kantor
"Dor!"
lemas aku diteror

Ingin aku bertualang
tapi bisakah bensin dibayar dengan kata: sayang?
sementara perut sudah bergoyang
karena belum diisi sejak siang

Oh hari Sabtu
tangki bensin berdebu
duhai malam Minggu
meringkuk memegang erat perutku

(15 Januari 2010)