Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Jumat, 05 November 2010

"Logisnya" Cinta

Hari masih terlalu pagi. Azan subuh baru saja berhenti. Dan warga sekitar terburu-buru menuju masjid agar tak tertinggal shalat berjamaah. Di luar, embun pun masih enggan menetes dari ujung dedaunan, meski ngengat, jangkrik, dan serangga malam lainnya telah menarik selimut menutupi kepala mereka sambil menunggu malam berikutnya. Dan saya, pun masih bergelut dengan rasa tidak ngantuk seperti biasanya.

Hari masih terlalu pagi, saat sebuah teori –atau lebih tepatnya, pemahaman baru— mendadak berkelebat lalu mengendap di benak saya. Sebuah percakapan singkat di ujung waktu imsak menjadi pemicunya.

“Maaf kalau aku tidak bisa seperti perempuan lainnya, yang bisa dikunjungi kapan saja, yang punya waktu luang banyak, yang bisa diajak bercinta. Sayang, maafkan aku, dengan segala keterbatasanku,”

Pesan itu lalu berkembang menjadi pertanyaan-pertanyaan yang terlontar begitu saja. “Apakah ada perbedaan antara mencintai dan dicintai?”. “Jika ada, apakah akan terlihat dengan nyata?”

Lalu seperti ini teori itu memberikan jawabannya: 1) Mencintai: Memberikan kasih sayang sedemikian rupa kepada seseorang atau sesuatu atau zat lainnya. 2) Dicintai: Menerima kasih sayang sedemikian rupa dari seseorang atau sesuatu atau zat lainnya.

Pemaparan jawaban yang sederhana itu akan dengan sederhana pula menjelaskan dua pertanyaan yang terpicu dari pesan singkat tersebut.

Mencintai dalam artian memberikan kasih sayang dapat berkonotasi dengan dua buah suku kata, yakni “tanpa syarat”, yang kemudian akan memberikan efek rasa “kompromi” terhadap keadaan si penerima kasih sayang tersebut. Alhasil, secara kasar berarti, plus-minus si penerima sebisa mungkin tidak akan terlalu memberi pengaruh kepada si pemberi. Legowo, nrimo, ikhlas, atau istilah lainnya menyebutkan.

Sedangkan dicintai --dalam artian menerima kasih sayang, menurut saya, lebih bermakna negatif. Sebuah kata yang penuh rasa negasi. Kemudian dengan jelas (masih menurut saya) akan memunculkan efek berantai yang berbanding seratus delapanpuluh derajat dengan "mencintai".

Dicintai berarti diberi kasih sayang. Sudah tentu, si penerima berhak untuk menentukan poin-poin agar si pemberi mau apa yang diberinya diterima oleh si penerima. Sangat tidak logis jika, misanya kita berkata seperti, "Aku mencintaimu, oleh karena itu, kamu harus bla-bla-bla,". Lebih logis jika seperti, "Aku akan menerima cintamu, untuk itu, kau harus ini, harus itu, harus bla-bla-bla,".

Ada syarat untuk bisa diterima. Seperti halnya masuk perguruan tinggi, harus ikut les, harus belajar, punya uang, agar bisa diterima. Logis kan?

Namun, apanya yang logis dari yang namanya "cinta" itu? Bahkan "cinta" itu sendiri adalah sesuatu yang abstrak. Jika dibilang logis maka ia bisa menjadi tidak logis, begitu juga kebalikannya.

Tetapi, ada satu hal yang jelas. "Mencintai" dan "Dicintai" itu sangat berbeda konteksnya. Dan sangat jelas pula, dibutuhkan adanya suatu keseimbangan dari keduanya. Terlalu mencintai tidak baik juga, karena sebagai manusia, kita tidak akan bisa selalu tulus dalam mencintai. Hanya para nabi yang bisa seperti itu.

Dan selalu berharap untuk dicintai juga sama tidak baiknya. Kita, sebagai manusia, mempunyai hati nurani untuk bisa berbuat tulus. Dan dengan selalu berharap dicintai akan menimbulkan kesan bahwa perasaan egois itu sangat kental di diri kita. Hanya iblis yang selalu egois.

Tinggal pilih yang mana.

0 komentar:

Posting Komentar