Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Jumat, 19 November 2010

Surat untuk calon menantu

Wahai kekasih anakku
kau boleh panggil aku apa saja
mama, bunda, atau ibu
karena sebentar lagi kau pun akan jadi buah hatiku

Ibu bahagia
mendengar kabar darinya
kau memilih dia
dampingimu selamanya

Sebelum kalian membuka pintu baru
dan kami memberi restu
izinkan ibu
melantunkan sesuatu

Calon menantu, sembilan bulan ibu mengandungnya
diazani ia oleh si bapak
genap delapan bulan dilangkahkan kakinya
satu tahun dua bulan ia merengek minta salak

Ia memang bukan lelaki bijaksana
kerap tingkah dan lakunya membuat kami gelengkan kepala
tapi, calon menantuku, yakinlah
ia adalah orang yang pertama tiba
dan memapahmu saat kau terjatuh dari tangga

Sungguh keras kepala ia
bahkan keluarga di sini suka pusing dibuatnya
tetapi ia akan berada di garis muka
meski akhirnya ia mendapat cemoohan dari yang dihadapinya

Belikanlah pakaian yang pantas untuk ia
sekali saja
menjelang hari raya
karena ia merasa cukup dengan baju koko dan sarung biru kotak-kotaknya

Mengajilah bersamanya
ia bukan tak kuat agama
ibu menyekolahkan ia Madrasah Diniah dan menyuruhnya ke mushola
enam tahun lamanya

Calon menantu,
ibu terlalu tahu isi hatinya
datanglah padaku
jika saja, suatu saat, ia membuatmu menitikkan air mata

Saling berbaik hatilah, calon menantu
mungkin kau sudah paham
pernikahan bukan hanya satukan dua insan
tetapi juga dua keluarga
menjadi saling berbesan

(19 November 2010)

*terinspirasi dari puisi WS. Rendra, "Surat Untuk Mama Tentang Calon Menantunya"

4 komentar:

asri mengatakan...

kali ini kamu menulis dengan gaya lumayan lugas, biasanya kamu menulis dengan full deskriptif. Membaca tulisan ini seperti bukan membaca tulisanmu, overall baguuus...

wah jadi calon mertua yang baik nih kayaknya

Tri mengatakan...

terima kasih, lagi belajar utk bisa menulis lagi seperti itu.

sering2 mampir, nanti disuguhi teh, hehe

asri mengatakan...

gulanya satu sendok aja

Tri mengatakan...

siiiiplah mbak Asri... hehe

Posting Komentar