Ilustrasi pembayaran menggunakan kartu debit (FOTO: Tri Purna Jaya/Dok. Pribadi) Oleh: Tri Purna Jaya Semenjak masa darurat pandemi Covid-19, kartu ATM saya menjadi jarang ‘mencium’ aroma parfum bilik anjungan tunai mandiri, baik itu di mini market maupun di bank. Kartu ATM yang mulai memudar warnanya ini, kuning dan biru, lebih banyak disentuh oleh mbak-mbak kasir jelita nan teliti di area perbelanjaan, khususnya menjelang di minggu pertama tiap bulan. Yup, transaksi jual-beli (baca: pembayaran) yang dilakukan keluarga kami saat ini lebih sering terjadi secara digital. Terlebih, ketika belanja bulanan kebutuhan rumah tangga dan anak-anak. Belanja dengan si kecil “Ayah, habis ini cari diapers adek, ya. Terus susu, shampo, sabun (mandi) cair, handsanitizer , sama sabun cuci,” kata Gina, istri saya ketika kami berjalan di lorong kebutuhan dapur di salah satu supermarket di Bandar Lampung beberapa waktu lalu. Hari itu akhir pekan di minggu pertama, honor dari kantor sudah masuk ke rekenin...
Tempias merah kekuningan mengalun Sore itu sesuatu yang lama terbangun Jalanan Sekolah taman kanak-kanak Durian Gorden putih pagar hijau mengandak Raksi itu menguar lagi Melati putih dari tepian delusi Hujan Gerai waralaba Seragam surat kabar harian Garis tipis di balik kacamata Bunga rindu memercik segala rupa Sepuluh tahun persona menjadi gatra pada kata Pesan singkat Lembah hijau Empat rakaat Distorsi hasrat hanya sebuah derau Dendam kini lagi tiada Hanya narasi indah tentang engkau ---Bandar Lampung, Februari 2020