Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Kamis, 05 Oktober 2017

Membaca Ending Video Klip ‘Akad’ Payung Teduh



Mungkin ini sangat terlambat buat menulis soal video klip terbaru dari Payung Teduh, Akad. Sudah lebih dari dua bulan sejak video klip itu diunggah di YouTube. Tapi biarlah, karena memang perspektif ini baru saya dapatkan setelah menonton video klipnya.

Baru nonton? Iya, saya baru nonton video klipnya, meski sudah mendengar lagunya pada Juli lalu. Kenapa baru nonton? Alasannya sih simpel, lagu-lagu Payung Teduh jauh lebih enak didengar pakai headphone sambil tidur-tiduran, jadi video klipnya pun tidak terlalu penting.

Beberapa hari lalu, sambil nemenin Aleesya main, saya iseng googling soal ‘Akad’ ini. Hasil pencarian menampilkan berita mengenai video klip lagu ini di-blur, ditarik kembali, diunggah yang baru, dan ending yang menyedihkan.

Lantaran penasaran, saya buka YouTube dan menontonnya. Tak perlu bicara banyak mengenai jalan cerita video klip itu; seorang lelaki paruh baya yang menjadi supir taksi online, penumpang yang beragam: sepasang kekasih, satu keluarga kecil, perempuan yang patah hati, dan geng yang ceria.

Cerita berjalan dengan ending pria paruh baya itu menjemput putrinya dan mendapat kejutan berupa perayaan hari ulang tahun pernikahannya dengan mending sang isteri.

Dari googling, disebutkan ending ini yang sukses bikin ‘baper’. Kebanyakan mengatakan ‘kesedihan’ atau haru karena si pria paruh baya itu menangis lantaran mendapat kejutan.

Tapi saya mendapatkan perspektif berbeda. Dan ini berhubungan dengan bait kedua reffrain ‘Akad’. Bagi saya, bait kedua inilah yang bikin tengkuk saya bergidik dan membayangkan hal-hal yang menyedihkan.

“...Namun bila saat berpisah tlah tiba. Izinkan ku menjaga dirimu. Berdua menikmati pelukan di ujung waktu, sudilah kau temani diriku,”

Saat lagu mencapai bait kedua reffrain ini, scene video klip begitu membuat saya tercekat. Sang pria paruh baya terlihat menahan kesedihannya, matanya memerah, tangannya bertangkup dan gelisah, jemarinya mengusap cincin kawin, hingga tangisnya tumpah sambil memandang foto mending sang isteri.

Bagi saya, kesedihan pria paruh baya itu bukan haru atau karena isterinya telah meninggal dunia. Melainkan, karena dia merasa bersalah atas ketidakmampuannya menjaga janji kepada mendiang isterinya.

“...Izinkan ku menjaga dirimu. Berdua menikmati pelukan di ujung waktu...”

Scene ending ini, menurut saya, cerdas dan benar-benar tahu apa yang mau disampaikan oleh Payung Teduh dalam ‘Akad’. ‘Akad’ di sini bukan berarti ijab kabul untuk mengesahkan perkawinan saja. Ini bermakna lebih jauh dari itu, ‘perjanjian’ dari dua manusia yang tidak hanya sebatas hubungan ragawi, tetapi sampai batin dan semesta keduanya.

Ah, sialan.... nangis lagi deh saya.

0 komentar:

Posting Komentar