Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sabtu, 18 September 2010

Aksara awal yang tercecer

hujan ini tiada hentinya menggerus bumi
sempat cemas,
"apakah ia akan turut menghanyutkan pertemuan ini?"

lalu ia hanyutkan panas yang masih menempel di kulit
terus terang, kehadiranmu, telah membangkitkan sejuta rasa yang telah lama mati dikuliti oleh bidadari yang lain lagi

kau tetap datang. basah kuyup
dan hujan tak kuasa menahan gelepak sayapmu
terbang mendatangiku
dengan tatapan mata yang entah sampai kapan membuatku jengah

kau datang bawakan narasi yang belum terselesaikan
masih setumpuk adegan
yang mungkin tidak akan selesai meskipun dunia berbaik hati
untuk menceraikan siang dari siklus hidup lalu menjadikan malam sebagai istri pertamanya

hanya agar kita bisa bertemu dan bercengkrama laiknya dua burung hantu yang saling ber-uhu-uhu di dahan pohon yang merangas terkena petir sore harinya

ah, aku tak bisa memaksa
ku antar kau sejauh jarak yang memungkinkan
sedekat mungkin dengan lawan main dramamu berada

(19 September 2010)

0 komentar:

Posting Komentar