Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sabtu, 16 Oktober 2010

Senandika Teh Tanpa Gula (3)

1.
"selesai sudah," kata hujan pada suatu malam saat teh tanpa gula dalam cangkirnya tiada lagi tersisa.

ya, musim hujan sudah waktunya berhenti dan biarkan pelangi melengkung penuh pada cakrawala. pada suatu pagi yang sempurna.

2.
apa yang terjadi, jika hujan turun setiap hari pada kota yang tanahnya tiada bisa menumbuhkan lagi padi.

tetapi hujan tidak pernah bisa menentukan dimana serta kapan ia akan melemparkan bulirannya bukan?

namun arus yang mengalir sudah seharusnya memiliki tujuannya. entah itu ke muara atau apa saja. mengalir sangat berbeda dengan terhanyut.

3.
bukan karena kesetiaan dan penantian melati kepada pelangi yang membuatnya gundah. "selesai sudah," ujar hujan yang pelan-pelan menarik diri dan mengisi cangkirnya dengan air sendiri.

dan ketika air mata tak mungkin lagi kini bicara tentang rasa, bawa ia pulang segera menuju alirannya jelajahi waktu ke tempat berteduh hati kala biru.

4.
secangkir teh tanpa gula menjadi sepi sendiri pada tepiannya saat menanti pelangi datang pagi ini.

"usailah. kita berawalan pada sajak dan seharusnya berakhir pula pada sajak," kata hujan dalam suatu kontemplasi yang bersahutan dengan teh tanpa gula yang tiada lagi tersisa.

(16 Oktober 2010)

0 komentar:

Posting Komentar