Langsung ke konten utama

Surat Keempatbelas

Senin, 22 Juni 2009
Untuk bungaku, yang perlahan dalam tenang mulai membayang,

Mari masuk. Sebentar, aku ambil untaian bunga “selamat datang” seperti hotel-hotel mewah di Hawaii sana. Kalau kau masuk ke dalam, bersiaplah untuk tercengang. Di selasar antara pintu masuk menuju lobby, tergantung lukisan-lukisan, emm …mungkin, lebih tepatnya sketsa yang menampilkan gambar dirimu. Banyak bukan? Sekedar memberitahu, itulah gambaranku tentangmu yang tertangkap oleh ingatanku selama ini. Ada sketsa dengan ekspresi kau tertawa, marah, sedih, kesal, dan lainnya, kau lihat saja sendiri yah.

Selepas selasar, silahkan duduk sebentar di lobby. Ada welcome drink. Hanya koktail sederhana dengan cherry di atasnya, berkadar alkohol rendah yang cukup menghangatkan tapi tidak memabukkan. Tidak perlu terburu-buru untuk check in. namamu sudah ada di daftar. Jadi, santai saja. Nikmati minumanmu sambil melihat-lihat sketsa di selasar tadi.

Bilamana kau sudah bosan melihat-lihat, mari, aku antar kau ke kamar yang sudah kupersiapkan. Pasti kau heran, kenapa aku sudah mempersiapkan kamar untukmu, sedang kau belum memesannya. Tidak perlu bingung, katakan saja aku punya firasat kau akan datang. Oh, kita sudah sampai. Ini kamarnya, silahkan masuk. Tidak begitu mewah memang, hanya ada satu sofa yang yakin akan membuatmu enggan berdiri. Lau sebuah tempat tidur berukuran kecil, yang meski seprainya belum dicuci dan bolong di sana sini, tapi aku pun yakin akan mendatangkan berjuta-juta mimpi indah walau kau hanya tertidur sebentar di sana. Kemudian, ada sebuah minitape compo, yang meskipun sudah usang dimakan usia, akan menemanimu, membuaimu dengan lagu-lagu indah pengantar tidur.

Yah, hanya inilah fasilitas kamar di losmen ini. Tetapi ini adalah yang terbaik, terbesar, ternyaman, dan “ter-ter” lainnya. Sebenarnya, masih banyak kamar yang lainnya, tapi untukmu, sengaja kupersiapkan yang paling sempurna menurutku. Hanya yang terbaik untuk yang terbaik.

Oya, ada pertunjukan musik live di ballroom seandainya kau bosan di kamar. Di lantai bawah, sebelah kiri lobby. Musik akustik. Hanya gitar kopong dan sebuah tabla. Bermain setiap hari, setiap jam, setiap kau inginkan. Memainkan lagu-lagu kesukaanmu ataupun lagu-lagu yang kau inginkan. Request saja, pasti dimainkan.

Jika kau benar-benar singgah dan menginap, kau akan kujamu layaknya seorang anak kecil. Akan kumanjakan, kuturuti semua maumu. Kunina bobokan saat kau mau tidur. Di meja makan, akan selalu tersedia makanan favoritmu, seandainya kau terbangun karena lapar. Dan susu merk favoritmu, seandainya kau terjaga karena haus. Lalu, akan selalu kutaburi bunga-bunga di bak mandi.

Atau, kau masih belum berkenan dengan sajian-sajian yang sudah kupersiapkan itu? Sebutkan saja, nanti kuusahan sesegera mungkin untuk mencari lalu menyajikannya. Tapi harap maklum, ini hanya losmen biasa bertarif ribuan, tidak segala tersedia. Jadi, bersantailah sejenak di taman belakang, emm …mungkin sambil membaca koleksi buku losmen ini di bangku taman sambil mendengarkan simfoni alam serta paduan suara perkutut selagi menunggu pesananmu. Agak lama memang, tapi pasti akan datang.

Ah, tampaknya kau mulai tidak nyaman. Aku mohon maaf apabila losmen ini tak seperti losmen-losmen atau hotel-hotel yang pernah kau singgahi sebelumnya. Yah, mungkin agak sedikit berantakan. Tapi, jika kita melihat dari kacamata yang berbeda, ‘keberantakan’ itu bisa menjadi keindahan. Pasti kau pernah melihat lukisan Basuki Abdullah atau Wasily Kandisky. Abstrak. Berantakan. Tak beraturan. Tapi ada keindahan yang tak kasat mata. Yang memerlukan pengamatan berlebih. Bukankah yang selalu terlihat indah secara langsung bisa menjadi sesuatu yang membosankan. Mungkin, pada awalnya kita akan berdecak kagum, tetapi ketika itu menjadi sesuatu yang biasa, selalu terlihat sama, akan muncul kebosanan.

Maka, dengan penuh kebanggan, aku berani berkata, “Inilah yang menjadi keunggulan losmen kecil ini! Berantakan yang berseni!”. Jadi bagaimana? Berminat? Tidak pun tak apa-apa, mungkin lain waktu. Tapi terima kasih atas kunjungannya. Dan, sekedar memberitahu, pintu depan selalu terbuka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat untuk calon menantu

Wahai kekasih anakku
kau boleh panggil aku apa saja
mama, bunda, atau ibu
karena sebentar lagi kau pun akan jadi buah hatiku

Ibu bahagia
mendengar kabar darinya
kau memilih dia
dampingimu selamanya

Sebelum kalian membuka pintu baru
dan kami memberi restu
izinkan ibu
melantunkan sesuatu

Calon menantu, sembilan bulan ibu mengandungnya
diazani ia oleh si bapak
genap delapan bulan dilangkahkan kakinya
satu tahun dua bulan ia merengek minta salak

Ia memang bukan lelaki bijaksana
kerap tingkah dan lakunya membuat kami gelengkan kepala
tapi, calon menantuku, yakinlah
ia adalah orang yang pertama tiba
dan memapahmu saat kau terjatuh dari tangga

Sungguh keras kepala ia
bahkan keluarga di sini suka pusing dibuatnya
tetapi ia akan berada di garis muka
meski akhirnya ia mendapat cemoohan dari yang dihadapinya

Belikanlah pakaian yang pantas untuk ia
sekali saja
menjelang hari raya
karena ia merasa cukup dengan baju koko dan sarung biru kotak-kotaknya

Mengajilah bersamanya
ia bukan tak kuat agama
ibu menyekolahkan ia Madrasah Di…

Membaca Ending Video Klip ‘Akad’ Payung Teduh

Mungkin ini sangat terlambat buat menulis soal video klip terbaru dari Payung Teduh, Akad. Sudah lebih dari dua bulan sejak video klip itu diunggah di YouTube. Tapi biarlah, karena memang perspektif ini baru saya dapatkan setelah menonton video klipnya.
Baru nonton? Iya, saya baru nonton video klipnya, meski sudah mendengar lagunya pada Juli lalu. Kenapa baru nonton? Alasannya sih simpel, lagu-lagu Payung Teduh jauh lebih enak didengar pakai headphone sambil tidur-tiduran, jadi video klipnya pun tidak terlalu penting.
Beberapa hari lalu, sambil nemenin Aleesya main, saya iseng googling soal ‘Akad’ ini. Hasil pencarian menampilkan berita mengenai video klip lagu ini di-blur, ditarik kembali, diunggah yang baru, dan ending yang menyedihkan.
Lantaran penasaran, saya buka YouTube dan menontonnya. Tak perlu bicara banyak mengenai jalan cerita video klip itu; seorang lelaki paruh baya yang menjadi supir taksi online, penumpang yang beragam: sepasang kekasih, satu keluarga kecil, perempuan yan…

Sajak Bujang Tak Punya Uang

Sabtu ini terlihat sendu
ketika kusadari betapa tipis ini saku
dompet biru merajuk malu
saat kusapa, "Aku kangen kamu,"

Cicilan motor
ponsel canggih dari kantor
"Dor!"
lemas aku diteror

Ingin aku bertualang
tapi bisakah bensin dibayar dengan kata: sayang?
sementara perut sudah bergoyang
karena belum diisi sejak siang

Oh hari Sabtu
tangki bensin berdebu
duhai malam Minggu
meringkuk memegang erat perutku

(15 Januari 2010)