Langsung ke konten utama

Surat Kedua

JUM’AT, 11 JULI 2008
Untuk kekasihku: yang masih belum aku tahu siapa,

Apa kabar kekasihku? Bagaimana keadaanmu di sana? Aku di sini baik-baik saja meski sudah tiga hari hanya makan pepaya yang tumbuh di pekarangan kos-kos an ku sebagai pengganti nasi dan lauk-pauknya, yah maklumlah, pengangguran yang tak terdeteksi. Hehehe.

Oh ya, surat ini aku kirimkan untuk mengatasi keterbatasan kita dalam berkomunikasi selama ini. Karena aku tidak menemukan e-mail balasan darimu di inbox e-mailku selama satu minggu ini. Tidak seperti biasanya. Tidak pula datang sms balasan darimu selama beberapa hari ini. Tidak seperti biasanya. Dan, tidak pula account-mu kutemukan aktif saat account messanger milikku kuaktifkan kemarin lusa. Tidak seperti yang telah kita janjikan malam sebelumnya untuk saling menyapa di alam maya.

Tapi tenang saja bidadariku, aku tidak menaruh curiga padamu, karena aku tahu apa yang terjadi sehingga engkau tak seperti biasanya yang selalu menyapaku, memberiku sebuah kecupan sayang meski hanya kata-kata ataupun emoticon di layar komputer ataupun layar ponselku. Dan pula aku tahu, bukan faktor dari dalam dirimu yang membuat engkau tidak lagi menghubungi aku, misalnya marah atau kecewa, karena hubungan kita selama ini baik-baik saja kan. Aku tahu, pemadaman listrik di kota tempat kau bergelut dengan hidup sekarang membuat aksesmu untuk bisa menghubungi menjadi terbatas dan aku yakin engkau bingung juga kecewa terhadap keadaan itu, dan kurasa bukan hanya engkau saja sayang, orang-orang lain pun aku rasa sama kesalnya dengan keadaan tersebut.

Tak dapat dipungkiri kalau listrik sekarang ini sama vitalnya dengan kebutuhan air bersih, makanan, ataupun transportasi. Aku tahu, engkau pasti merasa bingung mencari warnet untuk membalas e-mail-ku, karena warnet membutuhkan listrik untuk menyalakan komputernya. Jadi, bisa kubayangkan engkau kelimpungan mencari warnet yang buka, dan pemilik warnet yang gusar karena warnetnya harus tutup serta menderita kerugian. Aku dapat memperkirakan itu semua setelah melihat jadwal pemadaman listrik yang disiarkan di salah satu stasiun televisi swasta beberapa hari yang lalu.

Bisakah kau bayangkan, siapa yang akan menanggung kerugian paling besar? Tak perlu berpikir sayang, sudah tentu rakyat kecil (ah, lagi-lagi rakyat yang menjadi korban) termasuk engkau dan aku. Para pemilik usaha kecil seperti salon, pembuatan kue, atau industri rumah tangga lainnya akan menjerit karena usahanya mandek, berhenti, produksi macet, pemasukan berkurang, sedang kebutuhan bahan-bahan pokok mahal.

Memang, ada satu jalan keluar lainnya agar kegiatan usaha mereka tetap berjalan, yaitu mengganti listrik dengan menggunakan pembangkit listrik sendiri, alias dengan menggunakan mesin generator. Tetapi, genarator listrik tersebut membutuhkan bahan bakar! Bensin ataupun solar! Dan kita tahu, harga bahan bakar minyak sudah naik (lagi). Jadi, bagaimana perhitungannya? Biaya produksi naik! Dan sudah tentu harga-harga barang atau jasa pun ikut naik (lagi). Hiii …aku tak bisa membayangkan nanti harga sepotong roti dari seribu rupiah menjadi sepuluhribu rupiah.

Sayang, aku ingin bertanya satu hal. Dengan keadaan seperti ini, masih percayakah engkau dengan pemerintahan yang sekarang? Yang menjerat leher rakyatnya sendiri, yang menjebloskan rakyatnya sendiri ke dalam lubang lumpur hidup, yang melecehkan rakyatnya dengan memberikan uang seakan kita adalah pengemis, yang dengan entengnya berkata: “Sabar, ini adalah ujian dari Tuhan. Orang sabar disayang Tuhan”, yang lalu kemudian dengan tanpa malu mengimbau agar ikut berpartisipasi dalam Pemilihan Umum, dengan alasan (atau paksaan?) adalah kewajiban warga negara untuk ikut serta dalam Pemilu.

Hah! Enak benar! Rakyat selalu yang harus menunaikan kewajiban, dan mereka yang selalu mendapatkan hak. Rakyat yang terus melayani Negara, Negara? Mana! Kita telah menjadi budak di dalam negeri sendiri.

Dan satu lagi, Pemilu nanti akankah kau ikut memilih sayangku? Dengan melihat kelakuan mereka yang disebut sebagai “Wakil Rakyat”? Sementara rakyat yang memilihnya dan membayar gaji mereka kelaparan di “tenda-tenda pengungsian”, mereka sibuk memperkaya diri sendiri, memuaskan nafsu sendiri tanpa pernah berpikir kalau mereka bisa ada karena kita, rakyat negeri ini.

Apakah pantas, saat mereka berpapasan di lampu merah dengan seorang pengamen yang memakai kaos Partai mereka, mereka tak membuka jendela kaca mobilnya untuk memberikan uang receh. Boro-boro! Mereka malah membuat PP untuk memberantas gelandangan dan anak jalanan!

Hahaha! Banyak sekali tindakan-tindakan “Wakil Rakyat” tersebut yang tidak bisa diterima nalar. Bahkan ada salah satu wakil rakyat dari fraksi partai yang berazaskan agama terbesar negeri ini berbuat sesuatu hal yang sangat dilarang, sangat dikutuk oleh agama yang menjadi azas partainya. Tidak hanya satu orang saja, tetapi dua orang! Pasti kau sudah tahu kan? Itu yang baru terungkap sekarang, mungkin nanti ada yang lainnya, kita lihat saja.

Aku tidak memercayai mereka sayang, hanya kamu yang aku percaya. Aku tidak mau mempertaruhkan hidupku di tangan mereka. Sudah cukup banyak yang kecewa. Hanya di tanganmu, hidupku menjadi lebih berarti. Dan tahukah kau sayang? Tak perlu BBM ataupun listrik untuk menjaga agar rasa sayang ini tetap ada. Karena engkau adalah sumber bahan bakar semangatku. Karena kau adalah pelita yang senantiasa berpijar di dalam kegelapan langkahku.

Jaga dirimu baik-baik sayang, karena hidupku ada di tanganmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat untuk calon menantu

Wahai kekasih anakku
kau boleh panggil aku apa saja
mama, bunda, atau ibu
karena sebentar lagi kau pun akan jadi buah hatiku

Ibu bahagia
mendengar kabar darinya
kau memilih dia
dampingimu selamanya

Sebelum kalian membuka pintu baru
dan kami memberi restu
izinkan ibu
melantunkan sesuatu

Calon menantu, sembilan bulan ibu mengandungnya
diazani ia oleh si bapak
genap delapan bulan dilangkahkan kakinya
satu tahun dua bulan ia merengek minta salak

Ia memang bukan lelaki bijaksana
kerap tingkah dan lakunya membuat kami gelengkan kepala
tapi, calon menantuku, yakinlah
ia adalah orang yang pertama tiba
dan memapahmu saat kau terjatuh dari tangga

Sungguh keras kepala ia
bahkan keluarga di sini suka pusing dibuatnya
tetapi ia akan berada di garis muka
meski akhirnya ia mendapat cemoohan dari yang dihadapinya

Belikanlah pakaian yang pantas untuk ia
sekali saja
menjelang hari raya
karena ia merasa cukup dengan baju koko dan sarung biru kotak-kotaknya

Mengajilah bersamanya
ia bukan tak kuat agama
ibu menyekolahkan ia Madrasah Di…

Sajak Bujang Tak Punya Uang

Sabtu ini terlihat sendu
ketika kusadari betapa tipis ini saku
dompet biru merajuk malu
saat kusapa, "Aku kangen kamu,"

Cicilan motor
ponsel canggih dari kantor
"Dor!"
lemas aku diteror

Ingin aku bertualang
tapi bisakah bensin dibayar dengan kata: sayang?
sementara perut sudah bergoyang
karena belum diisi sejak siang

Oh hari Sabtu
tangki bensin berdebu
duhai malam Minggu
meringkuk memegang erat perutku

(15 Januari 2010)

Membaca Ending Video Klip ‘Akad’ Payung Teduh

Mungkin ini sangat terlambat buat menulis soal video klip terbaru dari Payung Teduh, Akad. Sudah lebih dari dua bulan sejak video klip itu diunggah di YouTube. Tapi biarlah, karena memang perspektif ini baru saya dapatkan setelah menonton video klipnya.
Baru nonton? Iya, saya baru nonton video klipnya, meski sudah mendengar lagunya pada Juli lalu. Kenapa baru nonton? Alasannya sih simpel, lagu-lagu Payung Teduh jauh lebih enak didengar pakai headphone sambil tidur-tiduran, jadi video klipnya pun tidak terlalu penting.
Beberapa hari lalu, sambil nemenin Aleesya main, saya iseng googling soal ‘Akad’ ini. Hasil pencarian menampilkan berita mengenai video klip lagu ini di-blur, ditarik kembali, diunggah yang baru, dan ending yang menyedihkan.
Lantaran penasaran, saya buka YouTube dan menontonnya. Tak perlu bicara banyak mengenai jalan cerita video klip itu; seorang lelaki paruh baya yang menjadi supir taksi online, penumpang yang beragam: sepasang kekasih, satu keluarga kecil, perempuan yan…